Kutai Kartanegara, Sketsa.id – Di tengah tekanan efisiensi anggaran yang membuat ruang fiskal Kutai Kartanegara tidak sebanyak tahun-tahun sebelumnya, Wakil Bupati Rendi Solihin menekankan pentingnya melihat peluang ekonomi baru. Salah satu yang paling menjanjikan adalah tanaman kratom, yang kini menjadi komoditas endemik unggulan daerah.
Rendi mengungkapkan bahwa setiap bulan, petani di Kukar mampu memproduksi 200 hingga 300 ton kratom. Total petani yang tergabung dalam komoditas ini lebih dari 12 ribu orang, mayoritas berada di Kota Bangun hingga Kabupaten Tabang, serta sebagian di Loa Kulu dan Tenggarong Seberang.
“Kratom ini ketika kita manfaatkan dengan baik, tahu tidak satu kilogram untuk ekstraknya itu harganya 2.000 sampai 3.000 dolar. Artinya satu kilogram dari kratom yang sudah menjadi ekstrak itu setara dengan satu unit motor,” ujar Rendi dalam inspeksi mendadak ke sejumlah Organisasi Perangkat Daerah, Senin (30/3/2026).

Dengan asumsi 100 ton bersih setiap tahunnya, Rendi memperkirakan potensi ekonomi dari kratom bisa mencapai Rp300 miliar. Ia menegaskan bahwa peluang ini harus ditangkap bersama agar kratom bisa menjadi sumber perekonomian berkelanjutan bagi masyarakat Kukar.
“Ini yang harus kita lihat peluangnya dan kita tangkap peluangnya bersama. Sehingga tanaman kratom bisa menjadi endemik unggulan untuk komoditas ekspor yang akan kita jalankan di Kutai Kartanegara,” tegasnya.
Rendi juga menyebut bahwa Tenggarong Seberang menjadi kecamatan di Kukar yang memiliki pabrik pengolahan kratom dari rempah menjadi ekstrak. Bahkan, Kukar saat ini menjadi penghasil kratom terbesar di Kalimantan Timur dan terbesar kedua di Indonesia setelah Kalimantan Barat.
“Kalimantan Barat belum punya pabrik pengolahan. Ini menjadi keunggulan Kutai Kartanegara. Kita dorong dan kita bantu seluruh pelaku, termasuk pelaku usaha ekstrak, untuk bisa menjadikan produk ini unggulan,” ucapnya.
Rendi menyebut permintaan kratom dari luar negeri saat ini sangat besar, terutama dari Amerika Serikat, Thailand, Ceko, dan sejumlah negara lainnya. Produk turunan kratom digunakan untuk kosmetik, farmasi, hingga suplemen energi.
“Kratom menjadi bahan dasar minuman energi seperti di luar negeri ada Monster, Red Bull. Di Indonesia ada Extra Jos, Krating Daeng, M150. Itu bahan dasarnya adalah kratom,” pungkasnya.
Dengan potensi yang sangat besar ini, Rendi berharap pemerintah daerah bersama masyarakat dan pelaku usaha dapat bersinergi menjadikan kratom sebagai komoditas andalan ekspor yang mampu menopang perekonomian daerah di tengah kondisi fiskal yang semakin terbatas. (*)










