Krisis Fiskal Kukar, Anggota DPRD Ini Dorong Sangasanga Beralih ke Ekonomi Kreatif

Selasa, 3 Februari 2026 - 03:49 WITA
Bagikan:
Foto: Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) Kecamatan Sangasanga. (ist)

Kutai Kartanegara, Sketsa.id – Kondisi fiskal Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) sedang tidak baik-baik saja. Tekanan efisiensi di berbagai sektor dan menyusutnya Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) menjadi tantangan serius dalam pembangunan daerah. Namun, di tengah keterbatasan itu, Anggota DPRD Kukar periode 2024–2029, Rahmat Dermawan, optimis bahwa Sangasanga bisa tetap bergerak maju. Caranya? Bukan dengan diam menunggu, melainkan dengan merangkul kolaborasi dan menghidupkan denyut UMKM.

Hal tersebut ia sampaikan saat menghadiri Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) Kecamatan Sangasanga. Forum yang dihadiri unsur Forkopimda, Bappeda, camat, para lurah, dan warga setempat itu menjadi panggung bagi Rahmat untuk mengingatkan bahwa zaman sudah berubah. Pemerintah daerah tak bisa lagi bertumpu sepenuhnya pada APBD yang kian terbatas.

“Kita harus mengkolaborasikan sumber daya yang ada. Jangan hanya berharap pada APBD. Peluang dari perusahaan lewat CSR, dukungan provinsi, hingga pemerintah pusat harus kita manfaatkan secara tepat dan terarah,” ujar politikus PDI Perjuangan itu di hadapan peserta musrenbang, beberapa waktu lalu.

Tak hanya soal pembiayaan, Rahmat juga menyoroti pentingnya diversifikasi ekonomi di Sangasanga. Menurutnya, ketergantungan terhadap sektor energi dan sumber daya alam yang tak terbarukan sudah tidak relevan lagi di masa depan. Sangasanga butuh sektor alternatif yang berkelanjutan.

Sejak awal, ia mengaku terus mendorong penguatan pariwisata, ekonomi kreatif, dan UMKM sebagai lokomotif baru pertumbuhan ekonomi warga. Salah satu momentum yang ia soroti adalah keberadaan Ruang Terbuka Hijau (RTH) Patung Bung Karno di Sangasanga. Ikon baru ini, kata Rahmat, bukan sekadar penanda sejarah, tapi juga peluang nyata bagi masyarakat untuk menggerakkan ekonomi lokal.

“Momen ini harus dimanfaatkan sebaik mungkin. Jangan hanya jadi pajangan. Semua harus bersinergi, bergerak bersama. Saya mendorong masyarakat, terutama pelaku UMKM dan seni, untuk mengambil peran di sana,” tegasnya.

Sebagai bentuk keseriusan, Rahmat menyampaikan bahwa pihaknya telah mengalokasikan dukungan anggaran pada 2026 mendatang untuk kelompok UMKM, pelaku seni, dan ekonomi kreatif. Langkah ini diharapkan mampu menjawab berbagai gagasan masyarakat yang selama ini menanti ruang untuk berkembang.

Di tengah situasi fiskal yang menantang, pendekatan kolaboratif dan keberanian melakukan diversifikasi ekonomi menjadi kunci. Sangasanga tidak boleh terjebak dalam nostalgia masa lalu, melainkan harus berani melangkah dengan cara-cara baru. (*)

Bagikan:

Polresta Samarinda Bongkar 79 Kasus dalam 21 Hari: Ada Pembunuhan, Curanmor, hingga Cap Tikus 9,8 Ton