Jakarta, Sketsa.id – Sebuah ramalan berusia hampir 470 tahun kembali viral di media sosial. Di tengah konflik antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda, warganet ramai membicarakan nubuat Nostradamus tentang “perang tujuh bulan” yang disebut akan menelan korban jiwa besar.
Ramalan ini ditafsirkan sebagai ancaman bahwa konflik global akan berlangsung lebih lama dan dampaknya semakin parah. Namun sejauh mana kebenaran tafsir tersebut?
Kutipan yang viral berasal dari karya Nostradamus, Les Prophéties, yang diterbitkan pada 1555. Kalimat yang sering dikutip berbunyi: “Seven months great war, people dead through evil / Rouen, Evreux the King will not fail”.
Seperti nubuat lainnya dari astolog Prancis abad ke-16 itu, kalimat tersebut memiliki arti yang sangat kabur. Dalam quatrains-nya, Nostradamus memang menyebut peperangan, kota-kota Eropa seperti Rouen dan Évreux, serta figur yang disebut “Raja” yang tidak akan “gagal”. Namun tidak ada rujukan waktu yang jelas. Tidak ada indikasi tahun atau abad spesifik, sehingga setiap generasi bisa membaca ramalan ini seolah ditujukan untuk zamannya masing-masing.
Viral di Tengah Konflik
Di tengah lonjakan ketegangan geopolitik saat ini, terutama perang antara AS-Israel dengan Iran yang telah berlangsung hampir sebulan, banyak yang menafsirkan quatrains Nostradamus ini sebagai salah satu skenario yang diramalkan sang astrolog. Beberapa menafsirkan “tujuh bulan” sebagai periode perang sekitar setengah tahun, misalnya Maret hingga September 2026, seiring laporan bahwa militer AS sedang mempersiapkan operasi jangka panjang melawan Iran.
Kota-kota Prancis yang disebutkan dinilai sebagai pertanda bahwa perang bisa menyebar hingga ke Eropa Barat. Selain itu, beredar pula kutipan lain tentang “swarm of bees” yang muncul di malam hari, yang sebagian ahli modern tafsirkan sebagai metafora serangan drone atau pesawat nirawak.
Apa Kata Sejarawan?
Para sejarawan dan ahli filsafat ilmu menekankan bahwa Nostradamus tidak membuat prediksi yang bisa diuji secara ilmiah. Kalimat-kalimatnya dirancang kabur dan puitis, sehingga dapat dihubungkan dengan banyak kejadian berbeda di berbagai masa.
Fenomena ini mirip efek self-fulfilling prophecy dan confirmation bias. Ketika perang dan konflik sudah terjadi, orang mencari kutipan yang cocok lalu menganggapnya sebagai bukti bahwa Nostradamus benar. Viralnya ramalan ini sebenarnya lebih mencerminkan keresahan publik terhadap konflik yang sedang berlangsung daripada bukti adanya kekuatan supranatural yang meramalkan masa depan.
Viralnya ramalan “perang tujuh bulan” telah memengaruhi diskusi publik tentang konflik modern. Di media sosial, kutipan Nostradamus digunakan baik oleh kelompok yang ingin menyebar kecemasan maupun oleh pihak yang memakainya sebagai alat retorika untuk mengkritik kebijakan luar negeri negara besar.
Dengan kata lain, ramalan Nostradamus tentang “perang tujuh bulan” kini lebih berfungsi sebagai cermin keresahan zaman daripada sebagai prakiraan ilmiah yang dapat dipercaya. Di tengah ketidakpastian, manusia cenderung mencari pola dan makna di mana pun bisa ditemukan—termasuk dalam puisi alegoris yang ditulis hampir lima abad lalu. (*)










