Washington, Sketsa.id – Kebijakan tarif yang digagas Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump berpotensi mengganggu produksi senjata di negeri Paman Sam. Jika diterapkan secara penuh, kebijakan ini diyakini bakal mengacaukan rantai pasokan global.
Laporan tersebut disampaikan Politico pada Jumat, 4 April 2025, dengan mengutip pandangan para pakar pertahanan.
Pada Rabu lalu, Trump mengumumkan serangkaian tarif baru yang cukup agresif, berkisar antara 10% hingga 49%, untuk barang impor dari berbagai negara. Ia menyebut kebijakan ini berpijak pada prinsip timbal balik.
Trump memuji langkah tersebut sebagai wujud deklarasi kemandirian ekonomi AS. Menurutnya, tarif ini akan menyeimbangkan kembali hubungan perdagangan yang selama ini dianggap timpang. Namun, para ekonom dari berbagai belahan dunia ramai-ramai mengkritik kebijakan tersebut.
Berdasarkan wawancara Politico dengan belasan diplomat, anggota parlemen, pejabat, dan analis industri pertahanan, kebijakan terbaru Washington ini bisa mendorong sekutu AS—yang sudah mulai waswas—untuk mencari mitra lain di luar AS.
Jika itu terjadi, industri pertahanan AS, yang selama ini menjadi pemasok senjata utama dunia, bakal terkena dampak serius.
“Akan ada kekurangan pasokan, aksi saling balas, dan sekutu kita pasti akan membalas,” ujar Bill Greenwalt, mantan pejabat akuisisi Pentagon, kepada Politico.
Ia menambahkan, “Beberapa pasokan penting bisa jadi jauh lebih mahal dari sekarang, atau bahkan tidak tersedia sama sekali.”
Tarif yang diberlakukan secara luas, seperti pungutan 20% untuk impor dari Uni Eropa (UE) serta 10% untuk barang dari Inggris dan Australia, diperkirakan bakal mendongkrak biaya produksi senjata buatan AS. Tak hanya itu, kemitraan internasional pun terancam terganggu.
Salah satu program yang berpotensi terdampak adalah jet tempur F-35, proyek kerja sama yang melibatkan 20 negara. Selain itu, proyek roket dan sistem pertahanan udara bersama Norwegia dan Israel juga bisa ikut merasakan tekanan.
“Kami menggantungkan harapan pada AS untuk peralatan terbaik,” kata seorang pejabat Eropa yang tak disebutkan namanya. “Tapi, kapasitas industri Eropa sudah meningkat pesat. Kami ingin jadi penyedia keamanan, bukan cuma konsumen.”
Pernyataan itu mengisyaratkan bahwa negara-negara Eropa mungkin akan menggenjot investasi di sektor manufaktur mereka sendiri. Langkah ini dilakukan untuk mengurangi ketergantungan pada komponen dan pasokan dari AS untuk sistem senjata kunci.
Laporan Politico juga menyebut bahwa pakta trilateral AUKUS—antara Australia, Inggris, dan AS—untuk membangun kapal selam bertenaga nuklir serta berbagi teknologi mutakhir, bisa berada di ujung tanduk. Kenaikan biaya suku cadang akibat tarif ini dikhawatirkan membuat proyek tersebut tak lagi layak secara finansial.
Senator Mark Kelly, anggota senior Partai Demokrat di Komite Angkatan Bersenjata Senat, menyoroti betapa rumitnya rantai pasokan pertahanan global. Ia menjelaskan, banyak produk militer melintasi perbatasan internasional berkali-kali selama proses perakitan. Akibatnya, tarif bisa berlaku berulang kali, yang tentu saja memicu kenaikan biaya.
ÞSementara itu, kelompok bisnis dilaporkan tengah mendesak pemerintahan Trump agar memberikan pengecualian khusus untuk industri pertahanan dari kebijakan tarif ini. Mereka memperingatkan, tanpa pengecualian, Pentagon bisa menghadapi lonjakan biaya dan gangguan serius pada rantai pasokan yang krusial. (*)









