Jakarta, Sketsa.id – Sebuah keputusan pahit harus diterima Kompol Cosmas Kaju Gae. Komisi Kode Etik dan Profesi (KKEP) Polri secara resmi memberhentikannya dari institusi Korps Brimob Polri dengan status Tidak Dengan Hormat (PTDH). Sanksi ini merupakan konsekuensi dari dugaan keterlibatannya dalam insiden penabrakan pengemudi ojek online, Affan Kurniawan, di tengah demonstrasi yang berujung ricuh.
Suasana haru dan duka menyelimuti ruang sidang saat putusan dibacakan oleh Ketua Majelis Sidang KKEP, Kombes Heri Setiawan. Perwira menengah yang sehari-hari memimpin Danyon Resimen 4 Korps Brimob itu tak mampu lagi menahan gejolak perasaannya.
Dengan sorot mata yang sayu dan berkaca-kaca, Kompol Cosmas sesekali menengadah ke langit-langit ruangan, berusaha menghentikan butiran air mata yang jatuh menyusuri pipinya. Isak tangisnya yang tertahan menggambarkan betapa beratnya beban yang dipikulnya di detik-detik penentuan nasib kariernya itu.
Dalam pernyataan yang dibacakan dengan suara lirih dan penuh penyesalan, Kompol Cosmas mengungkapkan bahwa semua tindakannya saat insiden berlangsung dilandasi oleh perintah dan tanggung jawab yang dibebankan institusi.
“Dengan hati yang tulus, saya menyampaikan bahwa sesungguhnya saya hanya melaksanakan tugas dan tanggung jawab, sesuai perintah institusi dan komandan secara totalitas,” ujarnya, mencoba menjelaskan sisi lain dari peristiwa tersebut.
Ia menambahkan, motivasi utamanya kala itu adalah untuk menjaga keamanan, ketertiban umum, dan yang paling utama adalah keselamatan seluruh anggota yang berada di bawah komandannya.
“Semua saya lakukan dengan risiko yang begitu besar di lapangan,” tuturnya, menegaskan betapa situasi saat demo ricuh adalah momen yang sarat dengan tekanan dan bahaya.
Putusan ini tentu menjadi catatan kelam dalam karier sang komandan. Namun, di balik putusan hukum, terselip fragmen manusiawi seorang perwira yang merasa telah menjalankan titah tugasnya, namun harus berakhir dengan konsekuensi yang memilukan. Kisah ini mengingatkan kita pada kompleksnya persoalan di lapangan dan sisi manusia dari seorang aparat yang sering kali terlupakan di balik seragamnya. (*)









