WASHINGTON, Sketsa.id – Pemerintah Amerika Serikat (AS) kembali memasuki masa *shut down*. Suasana di ibu kota negara tergantikan oleh ketidakpastian, setelah Senat gagal menyepakati anggaran federal pada Selasa (30/9/2025). Sekali lagi, rakyat menjadi penonton sekaligus korban dari kebuntuan politik dua partai.
Bayangkan: ratusan ribu pegawai negeri harus bersiap menghadapi hari-hari tanpa gaji. Taman nasional yang biasanya ramai, mendadak sepi. Proses visa dan paspor terhambat. Ini adalah gambaran nyata dari sebuah *government shutdown*.
Apa Sebenarnya Shut Down Pemerintah AS?
Pada dasarnya, *shut down* terjadi ketika pemerintah kehabisan uang yang sah secara hukum untuk beroperasi. Kongres dan Presiden gagal menyepakati anggaran baru, sehingga sebagian besar aktivitas pemerintah terpaksa berhenti.
Namun, tidak semua layanan mati total. Layanan penting seperti militer, keamanan nasional, dan rumah sakit federal tetap berjalan. Yang paling terasa dampaknya justru oleh masyarakat biasa:
* Pegawai pemerintah dan kontraktor harus “dirumahkan” tanpa bayaran.
* Taman nasional, museum, dan monumen ikonik ditutup.
* Layanan imigrasi, seperti penerbitan paspor dan visa, tertunda.
* Proses perizinan usaha dan penelitian ilmiah mandek.
Mengapa Hal Ini Terus Terjadi?
Akarnya terletak pada sistem politik AS yang dirancang untuk checks and balances. Kongres (yang memegang kuasa anggaran) dan Presiden (yang harus menandatanganinya) sering kali berasal dari partai yang berbeda, dengan ideologi yang bertolak belakang.
Ketika kompromi tidak tercapai—seperti yang terjadi antara Partai Republik dan Demokrat kali ini—anggaran gagal disetujui. *Shut down* pun tak terelakkan. Situasi ini kerap dijadikan senjata politik untuk memaksa lawan menyerah, dengan rakyat sebagai taruhannya.
Kilas Sejarah: Dari Reagan hingga Trump
Sejak 1976, AS telah mengalami lebih dari 20 kali shut down. Masing-masing meninggalkan cerita dan pelajaran:
1. Ronald Reagan (1981-1989): Memegang rekor *shut down* terbanyak (delapan kali), meski durasinya pendek, hanya 1-3 hari.
2. Bill Clinton (1995-1996): Salah satu yang paling dikenang. Konflik sengit dengan Kongres yang dikuasai Republik menyebabkan dua kali *shut down* dengan total 27 hari. Rakyat marah, dan popularitas Partai Republik anjlok.
3. Barack Obama (2013): Berlangsung 16 hari akibat perang politik seputar “Obamacare“. Kerugian ekonomi mencapai miliaran dolar.
4. Donald Trump (2018-2019 & 2025): Mencetak rekor shut down terlama (35 hari) akibat perdebatan soal pembangunan tembok perbatasan. Sekitar 800.000 pegawai tidak digaji selama lebih dari sebulan. Kini di periode keduanya, sejarah terulang akibat kebuntuan isu imigran.
Dampak yang Dirasakan Langsung oleh Warga
Di balik istilah teknis “shut down“, ada kehidupan nyata yang terganggu.
* Pegawai Federal: Mereka adalah tulang punggung pemerintah. Banyak yang harus memutar otak untuk membayar cicilan rumah dan kebutuhan sehari-hari saat gaji terhenti. Meski biasanya dibayar kembali setelah *shut down* selesai, ketidakpastiannya sangat menyiksa.
* Masyarakat Umum: Wisatawan yang sudah merencanakan liburan ke Grand Canyon atau Smithsonian Museum harus kecewa. Keluarga yang menunggu kepastian visa untuk reunifiikasi terpaksa menunggu lebih lama.
* Perekonomian: Pasar keuangan sering kali bereaksi negatif terhadap ketidakpastian ini. *Shut down* yang berkepanjangan dapat memperlambat pertumbuhan ekonomi AS dan berpotensi mengguncang pasar global.
Simbol Kegagalan Kompromi
Government shutdown telah berubah menjadi simbol nyata dari kebuntuan politik di Washington. Ia adalah pengingat pahit bahwa dalam demokrasi modern, tarik-menarik kepentingan partisan bisa mengorbankan stabilitas dan kesejahteraan rakyat.
Selama polarisasi politik masih kuat, ancaman *shut down* akan selalu mengintai. Dan seperti biasa, yang paling merasakan dampaknya bukanlah para politisi di Senat, tetapi warga biasa yang hidupnya diterpa ketidakpastian. (*)









