China Jawab Tantangan Trump: “Kami Tidak Takut dengan Ancaman Tarif 100%”

Senin, 13 Oktober 2025 - 04:24 WITA
Bagikan:
Foto: Ilustrasi lambang negara Amerika Serikat dan China ( ist)

Beijing, Sketsa.idBeijing kembali menunjukkan ketegasannya menanggapi eskalasi terbaru dari Washington. Pemerintah China menegaskan sikap tidak gentar menghadapi ancaman Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang berencena menaikkan tarif impor hingga 100% untuk semua produk China.

Langkah ancaman Trump ini merupakan respons setelah China lebih dulu mengumumkan pembatasan ekspor teknologi pengolahan dan manufaktur logam tanah jarang—komoditas vital untuk industri teknologi dan pertahanan.

Sikap Tegas China: “Tidak Ingin, tapi Siap Bertempur”

Melalui juru bicara Kementerian Perdagangan, China menyatakan ancaman tarif tinggi dari Trump bukanlah cara yang tepat dalam membina hubungan bilateral. Dengan nada tegas tapi terukur, juru bicara tersebut menyampaikan prinsip China dalam menghadapi perang dagang ini.

“Kami tidak menginginkannya, tapi kami tidak takut,” tegas juru bicara tersebut seperti dilaporkan Anadolu, Senin (13/10/2025). Pernyataan singkat itu menyiratkan kesiapan Beijing untuk berhadapan dengan segala kemungkinan, sekaligus menegaskan bahwa China tidak akan terintimidasi oleh tekanan AS.

Ancaman Balasan Trump di Media Sosial

Dalam unggahan di akun Truth Social, Trump menyampaikan rencana pembalasan secara detail. “Berdasarkan fakta bahwa China telah mengambil sikap yang belum pernah terjadi sebelumnya ini, dan hanya diterapkan pada AS, mulai 1 November 2025 (atau lebih cepat), Amerika Serikat akan mengenakan tarif 100 persen kepada China, di atas tarif apa pun yang saat ini mereka bayar,” tulisnya.

Tidak berhenti di tarif, mantan presiden AS itu juga mengancam akan memberlakukan pembatasan ekspor untuk semua perangkat lunak penting pada tanggal yang sama. Ancaman ini semakin memperlebar arena pertempuran dagang kedua negara, dari sekadar barang fisik ke ranah teknologi digital.

Langkah Strategis China Batasi Ekspor Teknologi Vital

Pemicu ketegangan kali ini adalah keputusan China pada Kamis pekan lalu untuk membatasi ekspor teknologi terkait logam tanah jarang. Pembatasan ini mencakup teknologi pemrosesan dan manufaktur, serta melarang entitas China bekerja sama dengan perusahaan asing tanpa izin pemerintah.

Kementerian Perdagangan China menjelaskan bahwa langkah-langkah ini diperlukan untuk menjaga keamanan dan kepentingan nasional. Kontrol ekspor diterapkan pada teknologi kritis yang meliputi penambangan, peleburan, pemisahan, produksi material magnetik, hingga daur ulang sumber daya sekunder.

Kebijakan China ini dianggap sebagai senjata strategis mengingat negara itu menguasai sekitar 80% pasokan logam tanah jarang global—bahan baku essential untuk pembuatan ponsel, kendaraan listrik, hingga peralatan militer.

Dengan saling ancam ini, perang dagang AS-China memasuki babak baru yang lebih panas. China tampaknya tidak akan mundur, sementara Trump menunjukkan komitmennya pada politik proteksionis. Dunia kini menunggu, akankah kedua raksasa ekonomi ini benar-benar menerapkan kebijakan mereka, atau ada ruang dialog yang masih terbuka. (*)

Bagikan:

Bato.to vs KakaoPage: Penutupan Situs Bajakan Picu Debat Sengit di Kalangan Pembaca Manhwa, Manhua, dan Manga