Jakarta, Sketsa.id – Suasana tepat di depan Gedung Merah Putih Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) pagi ini, Selasa (4/11/2024), menyimpan sebuah drama politik yang memilukan. Gubernur Riau, Abdul Wahid, tiba dengan pengawalan ketat, mengenakan kaus putih polos dan celana hitam sederhana, jauh dari kesan sang penguasa daerah. Tas jinjing berwarna biru yang ia bawa seakan menjadi simbol perjalanan tak terduga yang harus ia tempuh.
Kedatangannya pada pukul 09.35 WIB ini merupakan epilog dari sebuah operasi senyap KPK yang digelar di Riau sehari sebelumnya, Senin (3/11/2024). Dalam operasi tangkap tangan (OTT) tersebut, bukan hanya Abdul Wahid yang terjaring, melainkan sembilan orang lainnya yang juga merupakan penyelenggara negara.
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, sang gubernur yang baru menjabat sejak Februari 2024 lalu itu langsung digiring menuju lantai dua gedung KPK untuk menjalani proses pemeriksaan intensif. Ekspresinya yang tertutup menggambarkan beban berat yang tengah dipikulnya.
Langkah Awal OTT dan Barang Bukti yang Disita
Konfirmasi atas operasi ini disampaikan langsung oleh Juru Bicara KPK, Budi Prasetyo. “Benar, ada kegiatan tangkap tangan yang KPK lakukan di wilayah Provinsi Riau,” ujarnya kepada para wartawan yang telah menunggu. “Sampai dengan saat ini ada sekitar sejumlah 10 orang yang diamankan dalam kegiatan tangkap tangan.”
Lebih lanjut, Budi mengungkapkan bahwa dalam operasi ini, tim penyidik juga berhasil mengamankan sejumlah uang tunai sebagai barang bukti. Meski demikian, nominal pasti dari uang yang disita masih ditutup rapat untuk kepentingan penyidikan. “Tentunya ada sejumlah uang juga ya, nanti kami akan update soal itu,” janji Budi, memberikan sinyal bahwa kasus ini masih akan terus bergulir.
Wakil Ketua KPK, Fitroh Rohcahyanto, sebelumnya telah menegaskan bahwa salah satu dari sepuluh orang yang ditangkap itu adalah Gubernur Riau Abdul Wahid sendiri. Kini, KPK memiliki waktu 1×24 jam sejak penangkapan untuk menentukan status hukum sang gubernur dan sembilan tersangka lainnya.
Potret Abdul Wahid: Dari Anak Yatim Piatu hingga Kursi Gubernur
Di balik sorotan kasus hukum yang kini menyelimutinya, perjalanan hidup Abdul Wahid layak untuk direfleksikan. Pria kelahiran Belaras, Indragiri Hilir, 21 November 1980 ini adalah potret nyata anak daerah yang berjuang keras melawan kemiskinan.
Takdir keras harus ia hadapi sejak usia belia. Di umur 10 tahun, ia harus kehilangan sang ayah, pilar utama keluarga. Untuk bertahan hidup, ia rela bekerja di kebun keluarga, berjuang mengais rezeki demi menyambung nyawa. Namun, tekadnya untuk maju tak pernah pupus. Ia berhasil melanjutkan pendidikannya di Pondok Pesantren Ashhabul Yamin di Sumatera Barat, sebuah langkah yang mungkin menjadi fondasi karakternya.
Perjalanan akademisnya kemudian berlanjut ke Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim dan Universitas Riau. Dari sanalah bibit-bibit politiknya mulai tumbuh. Karir politiknya dimulai dari tingkat daerah, dengan menjadi Ketua Fraksi PKB di DPRD Riau selama satu dekade penuh (2009–2019). Pengalaman itu kemudian mengantarkannya ke kursi DPR RI, mewakili Dapil Riau II untuk periode 2019-2024.
Puncak karier politiknya terjadi pada Februari 2024, ketika ia dilantik sebagai Gubernur Riau ke-15, didampingi oleh Sofyan Franyata Hariyanto sebagai wakilnya. Sebuah pencapaian yang seharusnya menjadi mahkota perjuangan, namun kini justru berbalut kabut kelam.
Ironisnya, sebelum OTT ini terjadi, Abdul Wahid sempat menjadi sorotan publik karena pernyataannya mengenai Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Riau yang disebutnya defisit hingga Rp2 triliun. Sebuah pernyataan yang kini justru menambah daftai pertanyaan publik tentang integritasnya.
Kisah hidup Abdul Wahid adalah sebuah narasi yang kontras: dari perjuangan seorang anak yatim yang penuh liku, meraih puncak kekuasaan, dan kini harus berhadapan dengan lembaga antirasuah. Sebuah pengingat pahit bahwa kekuasaan dan tanggung jawab harus selalu berjalan beriringan. (*)









