Lagu “Garis Depan” Terdengar Sayup: Perjalanan Epik Garuda Muda di Piala Dunia U-17 Berakhir

Rabu, 12 November 2025 - 05:58 WITA
Bagikan:
Foto: ist

Jakarta, Sketsa.id – Malam itu di Aspire Zone, Al Rayyan, Doha, tak hanya pertandingan yang berakhir. Juga harapan sekelompok remaja yang membawa nama Indonesia di pundak mereka. Kekalahan 0-1 Republik Ceko dari Amerika Serikat menjadi penanda resmi: perjalanan Timnas Indonesia U-17 di Piala Dunia 2025 telah sampai di ujung.

“Kami sudah berjuang sampai titik darah penghabisan,” kata kapten tim, mata berkaca-kaca tapi kepala tetap tegak. “Ini bukan akhir, tapi awal dari perjalanan panjang kami.”

Sebelum laga Republik Ceko vs AS berakhir, sebenarnya sudah ada tanda-tanda kurang baik. Uganda mengejutkan Prancis dengan kemenangan 1-0, sementara Paraguay bermain imbang tanpa gol melawan Irlandia. Hasil-hasil ini membuat posisi Indonesia di klasemen peringkat ketiga semakin terpuruk.

“Kami tahu peluang kami tipis, tapi kami tetap berdoa dan percaya,” ujar pelatih Nova Arianto dari Doha. “Kadang sepak bola memang begitu – tak selalu yang terbaik yang menang, tapi yang beruntung.”

Warisan yang Tak Terukur dengan Angka

Meski tersingkir di fase grup, ada sesuatu yang tak bisa diambil dari anak-anak ini: kebanggaan. Kemenangan 2-1 atas Honduras akan tercatat dengan tinta emas dalam sejarah sepak bola Indonesia – kemenangan pertama negeri ini di Piala Dunia usia muda.

“Ketika gol kemenangan itu masuk, saya menangis,” kenang sang pencetak gol, suara bergetar. “Saya ingat semua perjuangan dari kecil, orang tua yang berkorban, dan sekarang bisa membahagiakan seluruh Indonesia.”

Mimpi yang Tak Pupus

Dari delapan tim peringkat ketiga yang lolos – Korea Utara, Mesir, Paraguay, Uganda, Maroko, Republik Ceko, Tunisia, dan Arab Saudi – nama Indonesia memang tak tercantum. Tapi di hati para pendukung, Garuda Muda telah menjadi pemenang.

“Mereka pulang bukan dengan kegagalan, tapi dengan pengalaman berharga,” kata pengamat sepak bola. “Mereka sudah membuktikan bahwa Indonesia bisa bersaing di level dunia.”

Malam semakin larut di Doha. Para pemain berkemas, membawa kenangan manis atas Honduras dan pelajaran berharga dari Zambia dan Brasil. Lagu “Garis Depan” masih terdengar sayup-sayup dari sekelompok suporter yang setia. Ini bukan selamat tinggal, tapi sampai jumpa di panggung yang lebih besar.(*)

Bagikan:

Bato.to vs KakaoPage: Penutupan Situs Bajakan Picu Debat Sengit di Kalangan Pembaca Manhwa, Manhua, dan Manga