Melindungi Masa Kecil: Langkah Berani Denmark ‘Memutus Rantai’ Media Sosial untuk Generasi Muda

Rabu, 12 November 2025 - 06:51 WITA
Bagikan:

WELLINGTON, Sketsa.id – Terkadang, melindungi berarti berani mengambil keputusan yang tidak populer. Presis seperti yang dilakukan Perdana Menteri Denmark Mette Frederiksen, yang dengan suara lembut namun tegas mengumumkan: “Cukup sudah. Media sosial telah mencuri terlalu banyak masa kecil.”

Kebijakan yang akan memblokir akses media sosial bagi anak di bawah 15 tahun ini bukan sekadar aturan biasa. Ini adalah bentuk kepedulian negara terhadap masa depan generasi mudanya. “Kami melihat betapa media sosial menggerogoti kesehatan mental remaja kami. Ini adalah epidemi diam-diam yang harus kita hentikan,” ujar Frederiksen.

Dengan Izin Orang Tua, Bukan Larangan Mutlak

Kebijakan ini ternyata tidak kaku. Caroline Stage Olsen, Menteri Digitalisasi yang mendampingi Frederiksen, menjelaskan adanya ruang kompromi. “Anak usia 13-15 tahun masih dapat mengakses platform tertentu dengan izin resmi orang tua. Kami percaya orang tua tahu yang terbaik untuk anaknya,” jelas Olsen.

Namun, kebijakan ini tetap memiliki gigi. Platform yang bandel bisa didenda hingga USD49,5 juta. Denmark menjadi negara kedua yang mengambil langkah berani ini, menyusul Australia yang akan menerapkan aturan serupa untuk anak di bawah 16 tahun.

Platform yang ‘Diampuni

Tidak semua platform masuk dalam daftar hitam. Pemerintah memahami kebutuhan edukasi dan komunikasi. WhatsApp untuk berbicara dengan keluarga, YouTube Kids untuk konten terkontrol, Google Classroom untuk pembelajaran – semuanya mendapatkan pengecualian.

“Kami tidak anti-teknologi. Kami hanya ingin memastikan teknologi digunakan dengan tepat sesuai usia,” tegas Olsen.

Kebijakan ini bagai oase di gurun digital. Sebuah pengakuan bahwa masa kecil yang sehat lebih berharga daripada like dan share. Seperti kata Frederiksen: “Kadang, melindungi masa depan berarti berani mengatakan ‘tidak’ hari ini.” (*)

Bagikan:

Bato.to vs KakaoPage: Penutupan Situs Bajakan Picu Debat Sengit di Kalangan Pembaca Manhwa, Manhua, dan Manga