Samarinda, Sketsa.id – Wakil Ketua DPRD Provinsi Kalimantan Timur, Ananda Emira Moeis, mendesak evaluasi menyeluruh terhadap sistem pengawasan lalu lintas Sungai Mahakam. Desakan ini disampaikan menanggapi rangkaian insiden tabrakan kapal pada jembatan yang kembali terjadi di awal tahun ini.
Berdasarkan catatan, Jembatan Mahulu tertabrak pada 23 Desember 2025, menyebabkan tiga fender hilang. Tidak berselang lama, pada 4 Januari 2026, insiden serupa kembali terjadi. “Sepengetahuan saya, tertabrak lagi tuh jembatan Mahulu. Terkait jembatan Mahakam (jembatan lama di jembatan kembar) juga kemarin tertabrak. Fendernya sampai hilang, kan?” ujar Ananda.
Kronologi Kejadian dan Respons DPRD
Data menunjukkan bahwa ini bukanlah insiden pertama. Jembatan Mahakam I tercatat telah ditabrak hingga 23 kali, dengan kejadian terakhir pada April 2025 yang sempat membuat pilar jembatan tertabrak langsung. Menyikapi hal ini, DPRD Kaltim telah menggelar Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan KSOP Kelas I Samarinda dan Pelindo.
Ananda menyatakan fungsi pengawasan DPRD terus berjalan. Ia meminta pihak berwenang, terutama KSOP dan Dinas PU, untuk secara transparan melaporkan progres perbaikan dan pergantian fender yang seharusnya sudah selesai tahun lalu.
“Kendalanya apa, kok belum jalan? Kami minta progress-nya selalu disampaikan karena ini menyangkut hajat hidup orang banyak,” tegasnya.
Ananda juga menegaskan bahwa penanganan tidak boleh hanya bersifat reaktif. Ia mendesak investigasi mendalam untuk menemukan akar masalah mengapa insiden serupa terus berulang. “Jangan hanya sekadar perbaiki setelah tertabrak. Besok-besok ketabrak lagi. Sumber permasalahannya apa? Coba dicari,” tandasnya.
Ia mempertanyakan efektivitas pengawasan, termasuk kemungkinan adanya aktivitas pelayaran di luar jam operasional yang seharusnya diawasi ketat oleh KSOP sebagai otoritas yang berwenang.
“Ini aset dan keselamatan rakyat kita yang dipertaruhkan. Harus ada keseriusan yang nyata, tidak hanya saat rapat tetapi juga di lapangan,” pungkas Ananda. (*)









