Jakarta, Sketsa.id – Arsitektur keuangan global mulai menunjukkan retakan yang semakin nyata. Dominasi Dolar Amerika Serikat (AS), yang selama puluhan tahun menjadi poros perekonomian dunia, mulai mendapat tantangan serius dari gelombang dedolarisasi dan bangkitnya sistem pembayaran alternatif. Lembaga keuangan internasional seperti IMF pun mulai bersiap menghadapi skenario yang sebelumnya “tak terbayangkan”.
Direktur Pelaksana Dana Moneter Internasional (IMF), Kristalina Georgieva, mengungkapkan kekhawatiran lembaganya. “Salah satu kemampuan yang sedang kami bangun adalah menyajikan secara hipotetis skenario peristiwa yang tak terbayangkan, lalu mencari tahu apa yang harus dilakukan,” ujarnya dalam sebuah forum di Brussel, seperti dikutip Rabu (28/1/2026). Pernyataan ini disampaikan di tengah melemahnya posisi dolar dalam cadangan devisa global, yang turun dari 72% pada 2001 menjadi di bawah 57% saat ini.
Tekanan terhadap dolar semakin nyata pasca kembalinya Donald Trump ke Gedung Putih pada Januari 2025. Sejak saat itu, nilai dolar tercatat melemah lebih dari 9% terhadap sekeranjang mata uang utama. Respons investor pun bergeser. “Alih-alih berbondong-bondong ke USD, para pedagang beralih ke emas,” tulis analis Macquarie, Thierry Wizman. Hal ini dibuktikan dengan harga emas yang menembus rekor di atas US$ 5.100 per troy ounce.
Infrastruktur Keuangan BRICS yang Semakin Solid
Di sisi lain, konsolidasi negara-negara BRICS (Brasil, Rusia, India, China, Afrika Selatan) dalam membangun sistem keuangan alternatif kian menguat. Langkah nyata terlihat dari integrasi Standard Bank—bank terbesar di Afrika—dengan Cross-Border Interbank Payment System (CIPS) milik China pada November 2025.
“Ini akan memungkinkan integrasi yang lebih besar dengan mitra dagang utama,” ujar Crosby Mkhwanazi, Head of Client Coverage Standard Bank. Sementara itu, Rusia dan China hampir menyelesaikan 100% perdagangan bilateral mereka menggunakan rubel dan yuan, mengindikasikan percepatan dedolarisasi di tingkat transaksi inti.
Meski demikian, para ahli menilai pergeseran ini tidak akan terjadi dalam semalam. Menteri Luar Negeri India, S. Jaishankar, menegaskan bahwa dolar masih menjadi sumber stabilitas dan India tidak memiliki kebijakan untuk menggantikannya. Georgieva juga mengakui status dolar sebagai mata uang cadangan utama dunia tidak akan berubah dalam waktu dekat, meski ia mendorong Uni Eropa untuk meningkatkan penerbitan obligasi bersama sebagai aset aman alternatif.
Dinamika ini menandai babak baru dalam tata kelola keuangan dunia, di mana hegemoni satu mata uang mulai dikaji ulang, sementara alternatif-alternatif lain mulai membangun fondasinya secara bertahap namun pasti. (cc)









