Teheran, Sketsa.id – Suara peringatan keras kembali bergema dari Teheran di tengah ketegangan yang memuncak dengan Washington. Iran mengklaim telah menguasai penuh Selat Hormuz, jalur air paling vital bagi perdagangan energi global, sembari menyatakan kesiapan tempur jika Amerika Serikat memulai peperangan.
Brigadir Jenderal Mohammad Akbarzadeh, komandan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), menegaskan bahwa pasukannya telah mempertahankan kendali mutlak. “Iran tidak mencari perang, tetapi sepenuhnya siap,” ujarnya seperti dikutip Fars News, Kamis (29/1/2026). “Jika perang pecah, tidak akan ada mundur, bahkan satu milimeter pun.”
Lebih dari sekadar klaim, Akbarzadeh menyebut pengawasan di selat itu kini telah menjadi “sepenuhnya cerdas”, melampaui metode tradisional. Sistem ini memungkinkan Iran memantau semua pergerakan maritim, termasuk di bawah permukaan, serta mengendalikan izin lintas bagi kapal-kapal asing.
“AS dan sekutunya tidak akan diizinkan mengambil keuntungan dari perang yang mereka mulai,” tegasnya, seraya mengingatkan bahwa negara tetangga yang wilayahnya dipakai untuk menyerang Iran akan diperlakukan sebagai musuh.
Ancaman ini merupakan respons atas ultimatum Presiden AS Donald Trump, yang sehari sebelumnya memperingatkan serangan “jauh lebih buruk” daripada serangan terhadap fasilitas nuklir Iran pada Juni 2025. Dalam unggahan di Truth Social, Trump menyebut “armada besar” AS sedang mendekati Iran dan siap bertindak “cepat dan keras”.
Iran membalas dengan bahasa yang tak kalah keras. Wakil Menteri Luar Negeri Kazem Gharibabadi menyatakan respons Iran tidak akan proporsional, tetapi akan “tepat”, dengan kemungkinan menargetkan pangkalan AS di wilayah tersebut. “Israel juga dapat menderita kerugian,” tambahnya.
Sementara itu, Misi Tetap Iran untuk PBB secara terbuka mengingatkan AS pada pengalaman pahitnya di Afghanistan dan Irak yang menghabiskan triliunan dolar. “JIKA DIPAKSA, MEREKA AKAN MEMBELA DIRI DAN MERESPON SEPERTI BELUM PERNAH TERJADI SEBELUMNYA!” tulis akun X mereka, meniru gaya bahasa Trump.
Ketegangan ini terjadi di atas panggung geografis yang sangat sensitif: Selat Hormuz. Lebih dari sepertiga pengiriman minyak mentah dunia dan 20% perdagangan gas alam cair (LNG) global melintasi selat sempit ini. Negara-negara seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Irak, dan Iran sendiri sangat bergantung pada jalur ini untuk ekspor energi mereka, terutama ke pasar Asia seperti Tiongkok.
Mobilisasi militer AS, termasuk kedatangan kapal induk USS Abraham Lincoln yang didukung rudal Tomahawk serta jet tempur F-35C dan sistem pertahanan udara THAAD, semakin memanaskan situasi. Namun, IRGC menyatakan mereka “lebih siap dari sebelumnya, siap menembak”.
Dunia kini menanti, apakah retorika panas ini akan mereda atau justru memantik percikan konflik terbuka di jalur energi yang menjadi denyut nadi perekonomian global. (*)









