Darurat Habitat: Orang Utan Terpaksa Makan Sampah di Jalur Tambang Bengalon

Sabtu, 31 Januari 2026 - 01:42 WITA
Bagikan:
Foto: penyelamatan Orangutan yang ditemukan mengais sampah untuk mencari makan.

Kutai Timur, Sketsa.id – Seekor orang utan jantan dewasa berhasil diselamatkan oleh tim gabungan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Timur bersama Conservation Action Network (CAN) Borneo dan Center for Orangutan Protection (COP). Penyebabnya, primata dilindungi itu terpaksa mengais makanan di tumpukan sampah liar di tepi Jalan Poros Sangatta–Bengalon, Kabupaten Kutai Timur.

Kepala BKSDA Kaltim, M. Ari Wibawanto, menjelaskan bahwa tim penyelamat bergerak setelah sebuah video yang menunjukkan orang utan tersebut viral di media sosial. Tim Wildlife Rescue Unit (WRU) dikerahkan dan pada Rabu, 27 Januari 2026, individu berusia sekitar 18–20 tahun itu berhasil ditemukan.

“Orang utan ini berada di lokasi yang tidak selayaknya. Di pinggir jalan, dikelilingi kebun sawit dan aktivitas tambang. Setelah diperiksa tiga dokter hewan, kondisinya sehat dan sifat liarnya masih ada, sehingga kami putuskan segera melepasliarkannya,” jelas Ari.

Individu yang kemudian diberi nama “Sam” itu pun langsung menjalani proses translokasi ke habitat yang lebih aman, yaitu Hutan Lindung Gunung Batu Mesangat di Kecamatan Busang, Kutai Timur.

Sampah Makanan Picu Perubahan Perilaku Satwa

Paulinus Kristanto, Founder dan Direktur CAN Borneo, yang terlibat langsung dalam penyelamatan, menyoroti akar masalahnya. Lokasi tumpukan sampah tersebut ternyata sudah lama digunakan warga, dan bukan kali pertama orang utan datang mencari makan di sana.

“Ini penting disampaikan: membuang sampah makanan di tepi jalan bisa mengubah perilaku orang utan. Setelah mengenal bau dan rasa makanan manusia, mereka bisa tertarik mendekati pemukiman bahkan menghentikan kendaraan,” tegas Paulinus.

Ia menambahkan, hilangnya habitat asli akibat pembukaan lahan besar-besaran di sekitarnya mendorong satwa mencari sumber makanan alternatif yang paling mudah—sampah.

“Pesan kami bukan ‘jangan buang sampah’, tetapi buanglah sampah pada tempatnya yang tertutup dan terkelola. Jangan di pinggir hutan atau jalur jelajah satwa,” imbaunya.

Kesigapan tim penyelamat mencegah potensi konflik yang lebih besar antara manusia dan satwa. Namun, kejadian ini menjadi pengingat serius: perlindungan orang utan tidak hanya soal penyelamatan individu, tetapi juga pelestarian habitat dan pengelolaan sampah yang bertanggung jawab. (*)

Bagikan:

Bato.to vs KakaoPage: Penutupan Situs Bajakan Picu Debat Sengit di Kalangan Pembaca Manhwa, Manhua, dan Manga