Samarinda, Sketsa.id – Layar besar di Yayasan Kemala Bhayangkari menyala pukul 11.00 Wita. Wajah Presiden muncul. Bukan dari Istana Merdeka seperti biasanya, tapi dari Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta.
Di ruangan yang sama, Wali Kota Samarinda Andi Harun duduk tenang di kursi depan. Kapolresta Kombes Hendri Umar di sampingnya. Kadisdikbud, Kadinkes, para pejabat utama Polresta, dan pengurus Yayasan Kemala Bhayangkari—semua memusatkan pandangan ke layar.
Tak ada tepuk tangan riuh. Tak ada orasi panjang. Hanya satu tombol ditekan dari ribuan kilometer jauhnya.
Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi Polresta Samarinda resmi beroperasi.
“Polri Harus Tahan Banting”
Presiden bicara. Kalimat pertama bukan tentang anggaran atau target produksi. Ia bicara tentang mental.
“Polri harus tetap kuat dan tahan banting menghadapi berbagai tantangan, termasuk kritik dan serangan di media sosial.”
Ruangan hening. Beberapa perwira saling bertukar pandang.
“Saya bangga dan puas atas prestasi Polri,” lanjutnya.
Kalimat itu seperti ganjalan bantal di kursi yang keras. Sebuah pengakuan yang mungkin tak sering mereka dengar di ruang publik.
Pangan dan Peradaban
Lalu Prabowo bicara tentang pangan. Bukan sekadar soal karbohidrat dan protein, tapi soal keberlanjutan bangsa.
“Menghasilkan pangan berarti melanjutkan peradaban. Tanpa pangan, tidak ada peradaban. Tanpa peradaban, tidak ada bangsa Indonesia.”
Ia menyebut inovasi kepolisian. Teknologi penyaring air. Produksi pangan dalam negeri. Hal-hal yang jarang masuk pemberitaan utama, tapi dikerjakan diam-diam di balik seragam coklat.
0,006 Persen dan 99,99 Persen
Presiden juga membuka data. Dari 4,5 miliar porsi makanan yang telah diproduksi secara nasional, sekitar 28 ribu penerima manfaat melaporkan gangguan kesehatan ringan.
“Angka itu hanya 0,006 persen. Artinya 99,99 persen program berjalan optimal,” katanya.
Tak ada nada defensif. Ia hanya meluruskan perspektif.
Kapolresta: Kami Bukan Sekadar Pengawal
Usai peresmian, Kombes Hendri Umar angkat bicara. SPPG ini, katanya, bukan sekadar fasilitas baru yang dipajang di peta organisasi.
“Ini komitmen. Kami siap mendukung penuh program pemenuhan gizi masyarakat. Bukan cuma jaga keamanan, tapi jaga kesehatan generasi,” ujarnya.
Kalimat itu menegaskan pergeseran peran: polisi tak hanya hadir saat ada kejahatan, tapi juga saat anak-anak butuh asupan layak.
Pekerjaan yang Baru Dimulai
Layar besar mati. Presiden kembali ke agendanya. Wali Kota dan Kapolresta bersalaman. Para undangan meninggalkan ruangan.
SPPG Polresta Samarinda kini resmi. Tapi publik tak hanya menunggu seremoni. Mereka menunggu apakah dapur ini benar-benar menghasilkan, atau sekadar jadi ruangan baru yang sesekali dikunjungi pejabat. (*)









