Kutai Kartanegara, Sketsa.id – Suasana Musrenbang Kecamatan Samboja berlangsung berbeda tahun ini. Bukan karena riuhnya usulan atau ramainya peserta, melainkan karena pesan yang disampaikan Rahmat Dermawan, anggota DPRD Kutai Kartanegara, membuat ruangan hening sejenak. Di hadapan camat, lurah, dan warga yang hadir, ia mengingatkan bahwa tahun ini bukan tahun yang longgar secara anggaran. Tapi bukan berarti diam.
“Kita harus lebih cermat memilih prioritas. Kondisi fiskal memang tidak mudah, tetapi pelayanan kepada masyarakat tidak boleh terhenti,” ujar politikus PDI Perjuangan itu dengan nada tenang namun menusuk.
APBD sedang defisit. Efisiensi dipangkas di sana-sini. Tapi di balik kabut anggaran yang sedang redup itu, Rahmat melihat secercah cahaya besar yang hanya tinggal menunggu siapa yang paling siap memungutnya. Namanya IKN.
Samboja, kata Rahmat, bukan sekadar salah satu kecamatan di Kukar. Wilayah ini kini masuk dalam delineasi kawasan Ibu Kota Nusantara. Status itu, menurut dia, bukan sekadar tempelan administratif yang bisa dibiarkan lewat begitu saja.
“Harus ada keberanian membaca peluang. Samboja ini strategis. Ke depan, perhatian dari otorita IKN harus kita dorong maksimal,” tegasnya.
Ia tak ingin Samboja hanya jadi penonton di rumah sendiri. Dengan posisi geografis yang masuk dalam lingkar pengembangan IKN, seharusnya banyak pintu yang bisa diketuk. Pariwisata, misalnya. Atau sektor pertanian yang selama ini jadi denyut warga. Dua potensi itu, kata Rahmat, bisa melompat jauh jika digarap dengan serius dan dibarengi perencanaan yang matang.
“Jangan sampai momentum ini terlewat. Kolaborasi dengan provinsi dan pusat harus diperkuat. Pemerintah kabupaten tak bisa jalan sendiri. Kalau kita mau program tetap hidup, kerja sama harus diperluas,” tambahnya.
Ia menegaskan, di tengah keterbatasan fiskal, pelayanan publik tak boleh jadi korban. Justru di situ letak tantangannya: bagaimana tetap hadir meski anggaran menipis. Karena itu, ia mengingatkan semua pihak agar usulan yang masuk ke pemerintah benar-benar hasil saring dari kebutuhan paling mendesak, bukan sekadar daftar keinginan tanpa skala prioritas.
Musrenbang, bagi Rahmat, bukan sekadar ritual tahunan yang menghasilkan tumpukan kertas usulan. Ia ingin forum ini jadi ruang sadar diri: melihat realitas anggaran, membaca peluang, dan menyusun masa depan yang realistis.
“Yang kita bangun bukan hanya proyek, tapi masa depan masyarakat Samboja. Dan masa depan itu sedang menanti di depan mata,” pungkasnya. (*)









