Jelang 244 Tahun Tenggarong, Beseprah Kembali Ingatkan Akar Budaya Kota Raja

Kamis, 24 September 2026 - 11:33 WITA
Bagikan:
Foto : Tradisi Beseprah Erau Adat Kutai 2026 di Tenggarong, Kukar. (Sketsa.id)

Tenggarong, Sketsa.id – Menjelang usia ke-244 tahun pada 28 September 2026, Kota Tenggarong kembali diingatkan pada akar budaya yang membentuk perjalanan panjangnya. Salah satunya melalui tradisi Beseprah yang digelar dalam rangkaian Erau Adat Kutai 2026, Kamis (24/9/2026).

Tradisi makan bersama yang berlangsung di kawasan Keraton/Museum Mulawarman itu mempertemukan masyarakat dari berbagai kalangan. Mereka duduk bersila, menikmati hidangan yang sama dan saling berbagi tanpa membedakan status sosial.

Bupati Kukar Aulia Rahman Basri mengatakan bahwa Beseprah merupakan tradisi yang mempertemukan masyarakat untuk makan bersama dalam suasana setara.

“Ini bagian dari rangkaian Erau Adat Kutai tahun 2026. Dalam tradisi Beseprah ini, kita melakukan makan bersama dengan seluruh warga masyarakat, duduk bersama dengan menu yang sama, dan merasakan kenikmatan yang sama,” ungkapnya.

Pelaksanaan Beseprah dalam rangkaian Erau Adat Kutai 2026 ini mengusung tema, “Raja Menjamu Rakyatnya”.

Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura bersama Pemkab Kukar menyajikan makanan yang dinikmati bersama masyarakat. Mulai dari kue hingga makanan berat.

Tahun ini kata Aulia, ada yang unik dalam tradisi beseprah. Pasalnya, pemerintah sengaja mengubah konsep Beseprah agar pejabat tidak berkumpul dalam satu kelompok, melainkan langsung berbaur bersama masyarakat.

“Iya, karena memang kita berusaha merubah tradisi yang ada. Kalau seandainya sesama pejabat itu tidak berseprah namanya, tidak duduk bersama dengan rakyat,” tuturnya.

Menurutnya, seluruh organisasi perangkat daerah (OPD) disebar di sejumlah titik agar dapat duduk dan berinteraksi langsung dengan masyarakat.

“Konsepnya kita ubah, yang berhadapan dengan kami beserta Ayahanda Sultan itu langsung warga masyarakat dan semua membaur. Organisasi perangkat daerah juga kita sebar ke seluruh titik, sehingga semuanya membaur dengan warga masyarakat,” jelasnya.

Perubahan tersebut diharapkan tidak berhenti pada pelaksanaan Erau tahun ini. Aulia ingin konsep Beseprah yang lebih dekat dengan masyarakat dapat terus dipertahankan.

Sebab, menurutnya, nilai utama Beseprah justru terletak pada kebersamaan yang tercipta ketika seluruh kalangan duduk dalam posisi yang sama.

“Beseprah menginginkan semangat saling support satu dengan yang lain, saling bantu satu dengan yang lain, duduk setara satu dengan yang lain, ini menginspirasi kita dalam proses pembangunan yang ada di Kabupaten Kukar,” katanya.

“Dengan semangat, spirit yang kita dapatkan hari ini, ini menjadi modal dasar, modal kuat kita untuk membangun Kutai Kartanegara menjadi lebih baik lagi,” tambahnya.

Perwakilan Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura, Pangeran Hario Notonegoro, yang juga Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kukar, mengatakan Beseprah merupakan bagian dari program strategis daerah yang dituangkan dalam RPJMD dan diturunkan dalam program serta kegiatan pemerintah daerah.

Ia menjelaskan, Beseprah memiliki makna yang jauh lebih luas daripada sekadar makan bersama. Beseprah dilakukan dengan duduk bersila dan melantai bersama. Jamuan yang disajikan menjadi simbol harapan dan doa agar Sultan senantiasa mengayomi rakyat yang dipimpinnya.

“Di mana Sultan membaur dan merasakan yang dirasakan oleh rakyatnya,” ujar Pangeran Hario.

Menurutnya, Beseprah melambangkan kesejajaran antarkalangan masyarakat. Beseprah berarti duduk sama rendah, berdiri sama tinggi. Nilai tersebut menjadi sarana untuk menjalin persaudaraan masyarakat Kutai sekaligus mempererat silaturahmi.

Di dalamnya juga terdapat pesan moral bahwa seorang pemimpin harus dekat dengan rakyat dan mampu membaur dengan masyarakat.

“Di sini Kesultanan Kutai Kartanegara bersama dengan pemerintah terus menjaga sebuah tradisi turun-temurun yang telah mengakar dalam kehidupan rakyat Kutai Kartanegara,” terangnya.

Jelang usia Tenggarong yang ke-244 tahun lanjut Hario, pesan menjaga tradisi menjadi semakin relevan. Perjalanan panjang Kota Raja, julukan Tenggarong, tak hanya dibangun melalui perkembangan pemerintahan dan pembangunan fisik, tetapi juga oleh budaya yang diwariskan antargenerasi.

Pangeran Hario mengatakan usia Tenggarong yang telah mencapai lebih dari dua abad ini adalah perjalanan panjang yang di dalamnya terdapat perjuangan dan pengorbanan generasi sebelumnya.

“Perjalanan panjang ini untuk mewujudkan Kota Tenggarong sampai dengan saat ini, perjuangan, di mana di situ ada pengorbanan jiwa, harta serta tetesan air mata,” bebernya.

Ia pun mengajak masyarakat untuk terus menjaga kondusivitas daerah. Menurutnya, keberlanjutan pembangunan dan kebudayaan membutuhkan dukungan seluruh masyarakat.

“Karena saya yakin dan percaya, tidak ada satu daun yang jatuh secara kebetulan, debu yang terbang secara kebetulan. Semuanya sudah tercatat di dalam Lauh Mahfuzh,” tandasnya.(Adv/ Diskominfo Kukar/cc)

Bagikan:

Langkah Perdana di Jalur Politik Indera Teguh Pimpin Penguatan PSI Berau hingga Akar Rumput