Erau 2026, Cara Disdikbud Kukar Dekatkan Pelajar dengan Budaya Daerah

Jumat, 25 September 2026 - 15:20 WITA
Bagikan:
Foto : Erau Adat Kutai 2026 jadi sarana Disdikbud Kukar tanamkan cinta budaya pada pelajar Kukar.

Tenggarong, Sketsa.id – Pengenalan adat dan budaya kepada generasi muda di Kutai Kartanegara (Kukar) tidak cukup hanya melalui buku-buku maupun pembelajaran di ruang kelas saja.

Lebih dari itu, pembelajaran harus dilakukan secara langsung agar pelajar bisa melihat, memahami, dan merasakan sendiri setiap prosesi adat yang menjadi bagian dari identitas daerah.

Hal tersebut yang tengah dilakukan oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kukar melalui rangkaian Erau Adat Kutai 2026. Para pelajar dari berbagai jenjang pendidikan dilibatkan untuk menyaksikan langsung prosesi adat, khususnya Beluluh dan Bepelas.

Dikatakan Kepala Disdikbud Kukar Heriansyah bahwa, keterlibatan pelajar tersebut menjadi bagian dari upaya menumbuhkan kecintaan generasi muda terhadap adat dan budaya daerah.

“Harapan kita, dari proses yang ada ini, ada sebuah kecintaan dari anak-anak kita, mulai dari keinginan tahuan mereka tentang adat dan budaya, sehingga mereka merasa cinta terhadap adat dan budaya sendiri,” tuturnya di Stadion Rondong Demang, Jumat (25/9/2026).

Menurutnya, selama ini pelajar lebih banyak menyaksikan prosesi Erau melalui media elektronik maupun media massa. Karena itu, kesempatan hadir langsung dalam prosesi adat, khususnya Beluluh dan Bepelas, dinilai penting agar mereka dapat memperoleh pengalaman yang lebih nyata.

Dalam program tersebut, Disdikbud Kukar melibatkan 30 satuan pendidikan tingkat dasar, 30 satuan pendidikan tingkat pertama, dan 30 satuan pendidikan menengah atas. Setiap pelaksanaannya menghadirkan tiga satuan pendidikan dari jenjang berbeda.

Heriansyah berharap pengalaman tersebut tidak berhenti pada pengetahuan mengenai prosesi adat saja. Dari proses mengenal dan memahami budaya, para pelajar diharapkan tumbuh rasa memiliki yang kemudian akan mendorong mereka ikut melestarikan dan mengembangkan budaya daerah.

“Ini bisa menjadi satu kekuatan kita untuk melestarikan dan mengembangkan budaya kita,” harapnya.

Ia menegaskan, pengenalan adat dan budaya juga perlu diarahkan pada pembentukan karakter. Nilai-nilai yang terkandung dalam budaya daerah harus dapat dipahami dan diinternalisasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Heriansyah menyebut empat buncu pasak bumi yang memuat nilai adat, adab, berbudaya dan bersarak sebagai bagian dari nilai yang perlu dikenalkan kepada generasi muda.

Ia mencontohkan filosofi hidup berkalang amanah, mati berkalang tanah. Filosofi ini mengajarkan pentingnya amanah dan kejujuran dalam menjalani kehidupan, serta mengingatkan manusia agar tidak sombong serta senantiasa menghargai sesama manusia dan alam.

Karena itu, Disdikbud ingin pembelajaran yang menghubungkan pendidikan dengan adat dan budaya daerah terus dikembangkan. Harapan Heriansyah, generasi muda tidak hanya menjadi penerus yang mengenal budaya Kukar, tetapi juga memiliki kecintaan dan kepedulian untuk menjaganya.

“Harapan kita, edukasi yang mereka bisa lihat langsung ini membuat mereka cinta terhadap adat dan budaya kita,” tandasnya. (Adv/Diskominfo Kukar/cc)

Bagikan:

Langkah Perdana di Jalur Politik Indera Teguh Pimpin Penguatan PSI Berau hingga Akar Rumput