Roma, Sketsa.id – Dunia Katolik tengah berduka atas kepergian Paus Fransiskus, pemimpin Gereja Katolik Roma yang wafat pada Senin, 21 April 2025, dalam usia 88 tahun.
Berbeda dari tradisi para pendahulunya, Paus Fransiskus memilih Basilika Santa Maria Maggiore di Roma, Italia, sebagai tempat peristirahatan terakhirnya, menandai langkah bersejarah sebagai paus pertama dalam lebih dari satu abad yang dimakamkan di luar Vatikan.
Keputusan ini mencerminkan nilai kesederhanaan dan kedekatan spiritualnya dengan Bunda Maria, yang menjadi ciri khas kepemimpinannya selama 12 tahun.
Pilihan Bersejarah: Mengapa Basilika Santa Maria Maggiore?
Basilika Santa Maria Maggiore, yang berdiri megah di Bukit Esquiline sejak abad ke-5, bukanlah pilihan sembarangan. Dalam wasiatnya yang ditulis pada Juni 2022, Paus Fransiskus secara eksplisit meminta dimakamkan di relung pemakaman sederhana di lorong samping antara Kapel Paulus (Kapel Salus Populi Romani) dan Kapel Sforza. Ia juga berpesan agar batu nisannya hanya bertuliskan “Franciscus” dalam bahasa Latin, tanpa ornamen khusus, mencerminkan semangatnya untuk menjauh dari kemegahan duniawi.
Pilihan ini sangat personal. Paus Fransiskus memiliki hubungan spiritual yang mendalam dengan basilika ini, khususnya dengan ikon Salus Populi Romani, sebuah lukisan Bunda Maria yang diyakini dilukis oleh Santo Lukas dan dianggap memiliki kekuatan mujizat.
Selama kepausannya, ia rutin berdoa di depan ikon ini sebelum dan sesudah setiap perjalanan apostolik internasional, memohon perlindungan dan menyampaikan rasa syukur.
Dalam wawancara dengan media Vatikan pada 2023, ia menyebut basilika ini sebagai “rumah rohani” yang memberinya kedamaian.
“Tempat ini adalah pengabdian saya yang besar,” ujar Paus Fransiskus dalam wawancara dengan N+ Meksiko, menegaskan devosinya kepada Bunda Maria dan alasan memilih Santa Maria Maggiore sebagai tempat pemakamannya.
Kesederhanaan dalam Pemakaman: Reformasi Ritus Kepausan
Paus Fransiskus dikenal sebagai reformis yang menekankan kesederhanaan, dan hal ini tercermin dalam tata cara pemakamannya. Ia mereformasi ritus pemakaman kepausan melalui buku “Ordo Exsequiarum Romani Pontificis” yang disetujui pada 2024, menghapus tradisi rumit seperti penggunaan tiga peti mati (kayu cemara, timah, dan oak) dan memilih peti kayu sederhana berlapis seng.
Ia juga menghapus tradisi memajang jenazah paus di atas panggung (catafalque) di Basilika Santo Petrus. Sebagai gantinya, jenazahnya diletakkan dalam peti terbuka untuk penghormatan publik, namun dengan pendekatan yang lebih sederhana dan bermartabat.
Seremoni pemakaman Paus Fransiskus dijadwalkan berlangsung pada Sabtu, 26 April 2025, pukul 10.00 waktu Roma (15.00 WIB), dalam bentuk Misa Requiem yang dipimpin oleh Dekan Dewan Kardinal, Kardinal Giovanni Battista Re.
Upacara ini akan dihadiri oleh sejumlah kepala negara, termasuk Presiden AS Donald Trump, Presiden Prancis Emmanuel Macron, dan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky.
Jenazah Paus telah disemayamkan di Basilika Santo Petrus untuk penghormatan publik dari 23 hingga 25 April, dengan lebih dari 19.000 pelayat hadir dalam 8,5 jam pertama.
Basilika Santa Maria Maggiore: Warisan Spiritual dan Sejarah
Basilika Santa Maria Maggiore bukan hanya tempat ibadah, tetapi juga simbol sejarah dan budaya Roma. Sebagai salah satu dari empat basilika kepausan di Roma, gereja ini adalah tempat perlindungan Maria pertama di dunia Barat dan gereja Maria terbesar di kota tersebut. Didirikan pada 432 M di bawah Paus Sixtus III, basilika ini menyimpan relik palungan Bayi Yesus, yang membuatnya dijuluki “Betlehem dari Barat,” serta relik Santo Matius dan Santo Hieronimus.Basilika ini juga kaya akan seni dan arsitektur.
Interiornya dihiasi mosaik abad ke-5 karya Jacopo Torriti, kolonade marmer cipollino dari era Romawi, dan langit-langit berlapis emas yang konon berasal dari Amerika, hadiah dari Raja Spanyol melalui Christopher Columbus.
Fasad megah karya Ferdinando Fuga (1743) dan lonceng setinggi 75 meter menambah kemegahan bangunan ini.Santa Maria Maggiore bukan tempat asing bagi pemakaman kepausan.
Tujuh paus sebelumnya telah dimakamkan di sini, termasuk Paus Honorius III (1216-1227) dan Paus Klemens IX (1667-1669), menjadikan pilihan Paus Fransiskus sebagai kelanjutan tradisi lama yang terputus selama lebih dari 350 tahun.
Makna di Balik Keputusan Paus Fransiskus
Keputusan Paus Fransiskus untuk dimakamkan di Basilika Santa Maria Maggiore bukan hanya soal lokasi, tetapi juga pesan spiritual dan pastoral. Ia ingin menegaskan bahwa Vatikan adalah tempat pelayanannya, bukan “keabadiannya,” sebagaimana ditulis dalam otobiografinya, Hope (2025).
Dengan memilih basilika yang terkait erat dengan kaum marginal dan devosi kepada Bunda Maria, Paus Fransiskus menegaskan visinya tentang Gereja yang rendah hati, inklusif, dan dekat dengan umat.
Pemakaman di luar Vatikan juga menandai langkah radikal yang jarang terjadi. Paus terakhir yang dimakamkan di luar Vatikan adalah Paus Leo XIII pada 1903, yang kemudian dipindahkan ke Basilika Santo Yohanes Lateran pada 1924. Dengan demikian, Paus Fransiskus menghidupkan kembali tradisi kuno sekaligus meninggalkan warisan yang selaras dengan nilai-nilai yang ia junjung yakni kesederhanaan, kerendahan hati, dan cinta kepada Bunda Maria.
Momen Bersejarah bagi Umat Katolik
Pemakaman Paus Fransiskus di Basilika Santa Maria Maggiore bukan hanya akhir dari perjalanan seorang paus, tetapi juga awal dari masa transisi bagi Gereja Katolik. Masa sede vacante telah dimulai, dan konklaf untuk memilih paus baru diperkirakan berlangsung antara 6 hingga 11 Mei 2025.
Sementara dunia menanti pemimpin baru, Basilika Santa Maria Maggiore akan tetap menjadi saksi bisu dari warisan Paus Fransiskus—seorang paus yang menjalani hidupnya dengan sederhana, penuh kasih, dan setia kepada panggilan imannya.Bagi umat Katolik di seluruh dunia, Basilika Santa Maria Maggiore kini bukan hanya tempat ziarah, tetapi juga simbol dari kehidupan dan ajaran Paus Fransiskus yang akan terus dikenang. (*)









