Bato.to vs KakaoPage: Penutupan Situs Bajakan Picu Debat Sengit di Kalangan Pembaca Manhwa, Manhua, dan Manga

Sabtu, 24 Januari 2026 - 05:56 WITA
Bagikan:
Foto: tangkapan layar tampilan batoto.

Jakarta, Sketsa.id – Komunitas pembaca manhwa, manhua, dan manga sedang ramai membahas satu isu besar: penutupan permanen Bato.to (dulu Batoto) yang diyakini dipicu tekanan hukum dari KakaoPage (Kakao Entertainment). Diskusi ini meledak di Reddit, TikTok, Discord, hingga forum Indonesia sejak pengumuman resmi pada 19 Januari 2026.

Bato.to selama bertahun-tahun jadi salah satu situs favorit karena koleksi lengkap, antarmuka bersih tanpa iklan mengganggu, update cepat, dan kolom komentar aktif yang bikin pembaca bisa diskusi bebas. Ribuan judul manhwa populer seperti Solo Leveling, Omniscient Reader’s Viewpoint, hingga manhwa eksklusif yang belum resmi diterjemahkan ke bahasa Inggris tersedia di sana—gratis.

Namun, seperti yang diketahui luas di kalangan pembaca komik digital, Bato.to merupakan situs ilegal yang mengandalkan scanlation bajakan. Situs ini mendistribusikan konten tanpa izin resmi dari pemegang hak cipta, termasuk penerbit Korea seperti Kakao Entertainment, Naver Webtoon, atau penerbit Jepang. Penutupan ini bukan kejutan: Kakao Entertainment melalui tim anti-piracy mereka secara terbuka mengklaim kredit atas shutdown tersebut, setelah berulang kali mengirim tuntutan DMCA dan gugatan hukum.

Di subreddit r/mangapiracy dan r/manhwa, banyak pengguna menyesalkan: “Kenapa Korea lebih galak daripada Jepang? Manga Jepang scanlation masih banyak yang aman.” Beberapa bahkan menyalahkan KakaoPage karena dianggap terlalu agresif mengejar situs bajakan, sementara platform resmi mereka (KakaoPage/Webtoon) masih terbatas aksesnya di luar Korea—harga coin mahal, terjemahan resmi lambat, dan tidak semua judul langsung tersedia dalam bahasa Inggris.

Di sisi lain, pendukung platform resmi membela: “Piracy merugikan kreator. Kalau semua baca bajakan, siapa yang mau beli coin? Bisa-bisa manhwa baru mati sebelum tamat.” Kakao Entertainment memang sedang gencar ekspansi global, dan penutupan aggregator seperti Bato.to jadi bagian dari strategi melindungi pendapatan penerbit serta royalti penulis.

Dampak Nyata bagi Pembaca

Banyak yang kehilangan “rumah” setelah Bato.to tutup. Chapter yang sedang dibaca hilang, judul langka yang sudah terhapus dari situs lain ikut lenyap. Beberapa creator YouTube bahkan bilang ini “akhir era emas scanlation mudah diakses”. Sekarang, pembaca beralih ke alternatif seperti Mangadex, Asura Scans, Reaper Scans, atau app resmi Webtoon, Tapas, Tappytoon—tapi tak sedikit yang merasa “kurang puas” karena iklan, batas chapter gratis, atau kualitas scan lebih rendah.

Debat ini lebih dalam lagi: apakah scanlation bajakan benar-benar “jahat” jika membantu akses di negara berkembang? Atau justru merusak industri kreatif yang sudah mulai bangkit di Korea? Sementara itu, tren global anti-pirasi makin ketat—tidak hanya dari Korea, tapi juga Jepang dan China.

Sumber kredibel seperti TorrentFreak, CBR (Comic Book Resources), dan thread komunitas Reddit menegaskan: penutupan Bato.to adalah pukulan besar bagi pembaca, tapi juga tanda bahwa era “gratis selamanya” untuk konten berhak cipta semakin sulit bertahan.

Kamu tim mana? Masih setia baca di situs bajakan demi akses mudah, atau beralih ke resmi demi dukung kreator? Diskusi ini masih panas, dan kemungkinan bakal terus berlanjut seiring makin banyak situs scanlation yang “hilang”. (cc)

Bagikan:

Bato.to vs KakaoPage: Penutupan Situs Bajakan Picu Debat Sengit di Kalangan Pembaca Manhwa, Manhua, dan Manga