Samarinda, Sketsa.id – Laut biasanya menyimpan rahasia. Tapi kadang, ia juga menyimpan bukti.
Hari pertama tahun 2026, sekelompok penyelam dari KOMPAK Muara Badak turun ke Spot KMM. Mereka ditemani wisatawan asal Malaysia yang datang untuk fun diving sekaligus mengambil lisensi selam. Spot ini dipilih karena selama ini dikenal sebagai salah satu yang terbaik di Kecamatan Muara Badak.
Yang mereka temukan di dasar laut bukanlah keindahan.
“Wisatawan Malaysia yang kami bawa tentu saja kecewa,” kata M Fachrian Akbar, penggiat konservasi dari KOMPAK Muara Badak. “Kami pilih Spot KMM karena kami anggap salah satu spot terumbu karang terbaik. Saat menyelam, kami tidak menemukan keindahan seperti biasanya. Sudah rusak, bahkan rata.”
Gundukan terumbu karang yang biasa menjulang berbukit-bukit kini rata seperti hamparan. Karang-karang besar berjatuhan. Di sela-sela puing, butiran hitam batu bara ikut mengendap. Tali baja—sling—masih melilit di sisa-sisa karang yang bertahan.
Bukti yang Tak Bisa Membantah
Fachrian dan timnya menemukan sejumlah petunjuk. Cat berwarna merah menempel di pecahan karang. Batu bara berserak di dasar laut. Tali besi sling yang biasa digunakan ponton tertinggal, masih melilit karang yang runtuh.
“Kami yakini yang merusak adalah ponton batu bara yang kandas,” ujar Fachrian.
Dari pengamatan awal, kerusakan mencapai sekitar 40 persen. Verifikasi lanjutan pada 10 Januari 2026 oleh tim KOMPAK dan akademisi memperkirakan luas area yang rusak mencapai lebih dari 200 meter persegi—setara dua lapangan bulu tangkis. Atau seperti yang Fachrian gambarkan: “Seperti lapangan bola yang diratakan.”
Zona Pelayaran, Bukan Konservasi
Fakta yang lebih memprihatinkan: Spot KMM berada di kawasan DLKP/DLKR—Daerah Lingkungan Kepelabuhanan dan Daerah Lingkungan Kerja Pelabuhan. Secara resmi, kawasan ini diperuntukkan bagi pelayaran, bukan konservasi.
“Kawasan terumbu karang di Muara Badak, seperti spot KMM, memang tidak terlindungi secara status kawasan. Sehingga tidak ada larangan bagi kapal untuk melintas,” jelas Fachrian. “Namun berdasarkan topografi laut, spot KMM tidak seharusnya dilintasi pelayaran kapal besar seperti ponton karena dangkal.”
Muchlis Efendi, dosen Jurusan Manajemen Sumberdaya Perairan FPIK Universitas Mulawarman, mengkonfirmasi hal tersebut.
“Saat ini kalau saya ngecek zonasi wilayah pesisirnya, spot KMM itu sebenarnya ada di DLKP/DLKR yang peruntukannya untuk pelayaran,” katanya.
Valuasi Ekonomi: Rp2,8 Miliar untuk 200 Meter Persegi
Muchlis menjelaskan dampak ekologis yang masif dari kerusakan ini. Terumbu karang memiliki fungsi sebagai spawning ground (tempat bertelur), feeding ground (tempat makan), dan nursery ground (tempat asuh anak ikan). Ketika rusak, fungsi-fungsi itu berkurang drastis.
“Kerusakan secara fisik seperti itu, akibat tertabrak oleh ponton yang kandas, yang jelas pasti terumbu karangnya mati,” ujar Muchlis.
Menggunakan metodologi valuasi ekonomi dari jurnal ilmiah, kerusakan 200 meter persegi ini setara dengan Rp2,8 miliar. Angka ini jauh di atas hitungan resmi Kementerian Kelautan dan Perikanan yang hanya Rp216 juta per hektar.
“Secara akademis, nilainya jongkok banget,” kata Muchlis merujuk pada hitungan resmi yang dianggap terlalu rendah.
Bukan Cuma KMM
Yang lebih mengkhawatirkan, Spot KMM bukan satu-satunya. Muchlis mengungkapkan bahwa di Pangempang saja ada kurang lebih 13 titik terumbu karang yang sering mereka survei, dan semuanya bukan merupakan kawasan konservasi.
“Ada yang di daerah penangkapan pelagis demersal, ada yang juga masuk di kawasan DLKP-DLKR, atau di kawasan pelayaran,” katanya.
Data dari Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi menunjukkan Kalimantan Timur memiliki sekitar 128.000 hektar terumbu karang—naik signifikan dari data lama 76.000 hektar. Namun kenaikan ini bukan karena perbaikan kondisi, melainkan karena eksplorasi data yang lebih intensif.
“Secara rata-rata Kaltim itu pada kondisi sedang, artinya tutupan karang hidupnya antara 25 sampai 50 persen. Yang tertinggi ada yang sangat bagus di atas 75 persen, tapi di beberapa tempat tertentu ada yang kurang dari 25 persen,” jelas Muchlis.
Daerah kritis tersebar di beberapa lokasi, termasuk wilayah perbatasan dengan Kalimantan Utara dan beberapa bagian di pesisir timur Pulau Kalimantan.
Dampak Berantai dan Perubahan Iklim
Kerusakan terumbu karang tidak berhenti pada kematian biota laut. Dampaknya merembet ke berbagai sektor. Secara ekologis, hilangnya habitat memicu penurunan keanekaragaman hayati dan terganggunya rantai makanan. Secara ekonomi, pariwisata selam ambruk dan hasil tangkapan nelayan merosot. Secara sosial, nelayan kehilangan mata pencaharian dan wilayah pesisir lebih rentan terhadap abrasi serta badai.
Muchlis menambahkan bahwa perubahan iklim memperburuk kondisi. Data suhu permukaan bumi menunjukkan tren kenaikan sejak tahun 1800. Air laut memanas, es mencair, dan salinitas berubah. Yang lebih mengkhawatirkan adalah acidifikasi laut atau pengasaman laut.
“Dulunya pH air laut itu kurang lebih 8,5. Saat ini sudah turun di sekitar 8,3 sekian. Penurunan makin cepat saat manusia mencapai zaman industrialisasi,” ungkap Muchlis.
Rehabilitasi: 5-10 Tahun, Tapi Tak Akan Seperti Semula
Pertanyaan besarnya: bisa pulihkah?
“Rehabilitasi alami membutuhkan waktu sekitar 5 sampai 10 tahun,” kata Muchlis. “Kalaupun ada upaya rehabilitasi dari manusia, seperti transplantasi atau terumbu buatan, biasanya hasilnya bisa lebih cepat kita lihat secara visual. Sekitar 5 sampai 7 tahun sudah terlihat, tapi catatannya: tidak akan seperti semula.”
Fachrian menegaskan pentingnya upaya pemulihan. “Kami dorong rehabilitasi. Tapi yang lebih penting, jangan biarkan ini terulang.”
Menelisik Pelaku: Teknologi Bisa Bicara
Siapa yang bertanggung jawab? Muchlis menjelaskan bahwa secara akademis, mereka tidak menemukan pelaku di lapangan. Namun teknologi bisa membantu penelusuran.
“Setiap kapal itu pasti punya data log. Aktivitas mereka di mana saja, posisi dan koordinat saat berlayar—itu semua akan terdeteksi,” katanya.
Ia berharap instansi terkait, seperti Dinas Perhubungan atau KSOP, dapat menelusuri keberadaan kapal di tanggal dan waktu tertentu yang berdekatan dengan lokasi kerusakan.
Kekayaan yang Tak Terlindungi
Di balik kerusakan, Muchlis mengingatkan bahwa Kalimantan Timur menyimpan kekayaan laut yang luar biasa. Sebagai bagian dari Coral Triangle—inisiasi enam negara (Indonesia, Malaysia, Filipina, Papua Nugini, Timor Leste, dan Kepulauan Solomon)—Kaltim memiliki keanekaragaman hayati laut yang tinggi.
Salah satu syarat suatu daerah masuk dalam kawasan Coral Triangle adalah memiliki keanekaragaman jenis spesies lebih dari 500. Kalimantan Timur, yang diwakili oleh perairan Derawan, memenuhi syarat tersebut.
Bahkan ada spesies endemik yang hanya ditemukan di perairan Kaltim. Jenis karang Acropora suharsonoi, dinamai berdasarkan penemunya, hanya ditemukan di Derawan. Ada juga ikan Dragonet atau Mandarin fish yang terverifikasi berada di Pulau Derawan dan Maratua.
“Artinya Derawan punya,” kata Muchlis.
Yang Dibutuhkan: SDM, Eksplorasi, dan Kolaborasi
Fachrian dan Muchlis sepakat bahwa masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan. Eksplorasi data terumbu karang di Kaltim masih sangat diperlukan, terutama di daerah-daerah yang airnya tidak terlalu jernih.
“Terumbu karang di Kaltim itu unik. Ada yang tidak akan pernah terlihat dari permukaan air, tapi di bawah ada. Contohnya di perairan Desa Tani Baru, Kutai Kartanegara, di tengah-tengah Delta Mahakam. Kami temukan dua spot terumbu karang di situ,” ungkap Muchlis.
Dari sekitar 128.000 hektar terumbu karang yang terdata, hanya sekitar 25 persen yang masuk kawasan konservasi. Selebihnya berada di luar—di kawasan pelayaran, kawasan migas, atau zona pemanfaatan umum.
“Terancam semua itu,” kata Muchlis.
Yang dibutuhkan ke depan, menurut Muchlis, adalah peningkatan SDM, eksplorasi yang lebih intensif, dan kolaborasi antara pemerintah, akademisi, LSM, dan swasta.
“Paling gampang: SDM dinaikkan. Kedua, funding. Lembaga-lembaga yang aktivitasnya di laut bisa berkolaborasi dengan perguruan tinggi. Penyediaan penyelam, peralatan, dan data scientist,” jelasnya.
Ia juga menyoroti peran swasta. “Perusahaan swasta yang memanfaatkan ruang di perairan pesisir masih banyak yang perbaikannya di darat. Mereka bisa didorong untuk membantu konservasi laut. Karena kalau lihat, laut itu tempat sampah. Dia diam, tapi bisa protes lewat kerusakan yang kita rasakan semua.”
Yang Tak Bisa Bersuara
Di akhir perbincangan, Muchlis mengingatkan bahwa laut tak bisa bersuara. Ia hanya bisa menunjukkan luka melalui kerusakan yang ditinggalkan.
“Yang di laut, ada yang bisa ngomong? Enggak ada. Sementara kalau lihat, laut itu tempat sampah. Dia terima aja. Tapi dia bisa protes—lewat kerusakan yang akhirnya kita rasakan.”
Fachrian mengamini. “Laut ini bukan tempat sampah. Dia diam, tapi bisa protes lewat kerusakan yang kita rasakan semua.”
Spot KMM kini menjadi saksi. Hamparan rata di dasar laut itu adalah jeritan yang tak terdengar—kecuali oleh mereka yang menyelam cukup dalam untuk melihatnya. (cc)









