Charlie Kirk, Tokoh Kontroversial Sayap Kanan AS, Tewas Ditembak Saat Berpidato

Jumat, 12 September 2025 - 07:34 WITA
Bagikan:
Foto: ist

AS, Sketsa.id – Charlie Kirk, aktivis sayap kanan Amerika Serikat dan sekutu dekat mantan Presiden Donald Trump, tewas ditembak saat sedang berbicara dalam sebuah diskusi di Utah Valley University, Rabu (10/9/2025). Insiden tragis ini terjadi di depan ratusan mahasiswa yang hadir dalam acara yang diselenggarakan oleh Turning Point US, organisasi yang didirikan oleh Kirk sendiri.

Kirk, yang baru berusia 31 tahun, ditembak di bagian leher namun sempat berbicara beberapa patah kata sebelum akhirnya dilarikan ke rumah sakit. Nyawanya tidak tertolong. Rekaman video yang beredar di media sosial menunjukkan momen chaos setelah tembakan terdengar, dengan para peserta yang berlarian menyelamatkan diri.

Donald Trump langsung memberikan penghormatan melalui platform Truth Social. “Charlie Kirk yang hebat, bahkan legendaris, telah meninggal dunia. Tak seorang pun anak muda di Amerika Serikat yang memahami atau memiliki hati lebih baik daripada Charlie,” tulis Trump.

Profil dan Perjalanan Karier

Kirk tumbuh besar di pinggiran Chicago sebagai putra seorang arsitek. Meski sempat kuliah di perguruan tinggi dekat Chicago, ia memutuskan keluar untuk fokus pada aktivisme politik. Cita-citanya untuk masuk akademi militer West Point gagal karena tidak lulus seleksi.

Meski tanpa gelar sarjana, Kirk menjadi pembicara yang andal dan ulet. Ia berkeliling Amerika Serikat, berbicara di acara-acara Partai Republik dan Tea Party, hingga namanya populer di kalangan gerakan ultra-konservatif. Pada 2020, ia menulis buku terlaris “The Maga Doctrine” yang merujuk pada kampanye Trump.

Pernyataan Kontroversial

Sepanjang kariernya, Kirk dikenal dengan pernyataan-pernyataan kontroversial yang sering memicu kecaman. Beberapa jam sebelum tewas, Kirk bahkan sedang membahas tentang penembakan massal di kampus tersebut.

Terkait kontrol senjata, Kirk pernah menyatakan bahwa kematian akibat senjata api adalah “harga yang layak dibayar” untuk melindungi Amandemen Kedua Konstitusi AS. “Itu adalah deal yang masuk akal,” ujarnya dalam sebuah acara pada April 2023.

Kirk juga dikenal sebagai penyebar teori konspirasi. Di masa pandemi Covid-19, ia menyebarkan istilah “virus China” dan membandingkan kebijakan vaksinasi dengan sistem apartheid. Pada Februari 2024, ia merujuk teori konspirasi “great replacement” yang menyebut imigran tanpa dokumen datang untuk menggantikan warga kulit putih Amerika.

Kirk sendiri secara konsisten menyebarkan narasi yang menempatkan Islam sebagai ancaman terhadap peradaban Barat. Berikut adalah beberapa poin pernyataannya yang mengkhawatirkan:

Penyamaan Islam dengan Terorisme

Kirk berulang kali menyamakan Islam dengan ekstremisme kekerasan. Dalam sebuah podcast tahun 2022, ia menyatakan, *”Islam radikal bukanlah penyimpangan, melainkan bagian tak terpisahkan dari doktrin Islam itu sendiri.”* Pernyataan ini mengabaikan keragaman interpretasi dalam Islam dan mereduksi agama tersebut hanya sebagai ancaman.

Dukungan terhadap Kebijakan Larangan Masuk Warga Muslim

Kirk merupakan pendukung setia kebijakan larangan masuk (travel ban) yang diterapkan Donald Trump terhadap warga negara dari beberapa negara mayoritas Muslim. Ia berargumen bahwa kebijakan tersebut “diperlukan untuk melindungi Amerika dari infiltrasi ideologi ekstremis.”

Narasi ‘Islamisasi Barat

Kirk sering memperingatkan tentang “Islamisasi Eropa dan Amerika” melalui imigrasi dan tingginya angka kelahiran di kalangan Muslim. Dalam sebuah ceramah di konferensi konservatif, ia menyebut “Eropa sedang menghadapi invasi budaya yang didorong oleh imigran Muslim.”*

Penyederhanaan Konflik Geopolitik

Kirk cenderung menyederhanakan konflik Timur Tengah sebagai benturan antara “Peradaban Barat yang Kristen” dan “Dunia Islam yang barbar.” Ia mengabaikan akar konflik yang kompleks, termasuk faktor kolonialisme, ekonomi, dan politik.

Dukungan untuk Kebijakan Israel yang Kontroversial

Kirk tidak hanya mendukung Israel tanpa syarat, tetapi juga menggunakan narasi yang mengaitkan kritik terhadap Israel dengan dukungan terhadap terorisme. Ia pernah menyatakan bahwa “orang-orang yang mengkritik Israel adalah para simpatisan Hamas.”

Pengaitan Islam dengan Ketidakmajuan

Dalam beberapa kesempatan, Kirk menyebut bahwa “dunia Islam tertinggal karena doktrin agamanya yang menolak kemajuan dan modernitas.” Pernyataan ini mengabaikan kontribusi besar peradaban Islam dalam sains, filsafat, dan seni sepanjang sejarah.

Pandangan-pandangan Kirk ini tidak hanya menuai kritik dari kelompok liberal, tetapi juga dari kalangan konservatif moderat yang menilai narasinya berbahaya dan divisif. Kematiannya meninggalkan warisan polarisasi yang masih akan terus memengaruhi wacana politik AS terkait Islam dan hubungan dengan dunia Muslim.

Warisan dan Pengaruh

Sebagai pendiri Turning Point USA, Kirk berperan besar dalam memobilisasi suara pemuda untuk Trump dalam pemilu 2024. Akun TikTok-nya, The Charlie Kirk Show, memiliki 8,1 juta pengikut dimana ia kerap mengunggah debat melawan pandangan liberal.

Meski kontroversial, para pengagumnya menekankan bahwa Kirk menyukai perdebatan dan pertukaran ide secara bebas.

“Kita sebagai kaum konservatif punya kulit tebal, bukan kulit tipis. Silakan saja menertawakan kami, itu tidak masalah,” ujarnya dalam salah satu video YouTube.

Kematian Kirk menyisakan duka mendalam bagi pendukungnya dan menambah daftar panjang kekerasan senjata di Amerika Serikat. Investigasi masih terus dilakukan untuk mengungkap motif dan pelaku penembakan ini. (*)

 

Bagikan:

Bato.to vs KakaoPage: Penutupan Situs Bajakan Picu Debat Sengit di Kalangan Pembaca Manhwa, Manhua, dan Manga