Dampak Lingkungan Tambang Grasberg: Jejak Kerusakan di Bumi Papua

Sabtu, 27 September 2025 - 05:20 WITA
Bagikan:
Foto: ist

JAKARTA, Sketsa.id – Di balik gemerlap tembaga dan emas yang dihasilkan, tambang Grasberg milik PT Freeport Indonesia (PTFI) di Papua meninggalkan jejak kerusakan lingkungan yang dalam. Operasi tambang terbesar di dunia ini telah mengubah wajah bumi Papua selamanya.

Setiap hari, sekitar 200.000 ton limbah tailing mengalir deras ke sungai-sungai di Papua Tengah. Praktik pembuangan limbah ke sungai ini telah berlangsung puluhan tahun, meninggalkan warisan pencemaran yang mengancam ekosistem dan masyarakat adat.

Sungai-sungai yang Terancam: Kisah Pencemaran Tailing
Sungai Aghawagon dan Otomona yang dulunya jernih, kini menjadi jalur pembuangan limbah tambang. Data Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) tahun 2020 mengungkap fakta mencengangkan: kadar tembaga di muara sungai mencapai 0,5 mg/L—hampir 40 kali lipat dari ambang batas aman EPA Amerika yang hanya 0,013 mg/L.

“Kondisi ini mengancam kelestarian biota air, termasuk ikan-ikan endemik Papua yang menjadi sumber kehidupan masyarakat lokal,” jelas peneliti LIPI dalam laporannya.

Masalah tidak berhenti di tailing saja. Air asam tambang (acid mine drainage) yang dihasilkan dari oksidasi batuan limbah semakin memperparah kondisi lingkungan.Data dari jurnal Environmental Science & Technology (2021) menunjukkan pH air di beberapa anak sungai dekat Grasberg turun drastis hingga 3,5—sangat asam dibandingkan standar normal pH 6-9.
Hilangnya Hutan Primer: Deforestasi Skala Besar
Greenpeace Indonesia mencatat, hingga 2023 sekitar 22.000 hektar hutan primer telah hilang akibat operasi tambang Grasberg. Kawasan yang dikenal sebagai “surga keanekaragaman hayati” ini terus menyusut, mengancam habitat burung cenderawasih dan spesies endemik lainnya.

“Pembukaan lahan untuk infrastruktur tambang tidak hanya menghilangkan tutupan hutan, tetapi juga meningkatkan risiko bencana seperti longsor,” ungkap juru kampanye Greenpeace.

Erosi tanah akibat pembukaan lahan juga meningkatkan risiko longsor, seperti yang terjadi pada insiden material basah di Grasberg Block Cave pada September 2025. Model geoteknik menunjukkan bahwa hilangnya vegetasi mengurangi stabilitas lereng hingga 15-20%, memperbesar potensi bencana lingkungan di kawasan pegunungan yang sudah rentan.
Dampak paling menyedihkan dirasakan oleh suku Amungme dan Kamoro yang hidupnya bergantung pada alam. Laporan WALHI Papua (2022) menyebutkan, hasil tangkapan ikan masyarakat lokal turun drastis hingga 60% akibat pencemaran sungai.

Tidak hanya itu, debu dari aktivitas tambang menyebabkan peningkatan kasus infeksi saluran pernapasan (ISPA) sebesar 12% di Kabupaten Mimika antara 2015-2020. Masyarakat yang selama ini menggantungkan hidup pada sungai dan hutan, kini harus menghadapi ancaman ganda: kehilangan sumber penghidupan dan gangguan kesehatan.
Tantangan dan Harapan Ke Depan
PTFI telah berkomitmen meningkatkan pengelolaan lingkungan melalui berbagai program, namun efektivitasnya masih perlu dibuktikan. Transparansi dan pengawasan independen menjadi kunci untuk memastikan komitmen ini tidak sekadar wacana.

Pemerintah Indonesia melalui Kementerian ESDM dituntut untuk memperkuat regulasi dan pengawasan, memastikan operasi tambang tidak mengorbankan lingkungan dan masyarakat Papua. Kolaborasi ketat antara perusahaan, pemerintah, dan komunitas lokal diperlukan untuk mencapai keberlanjutan sejati. (*)

Bagikan:

Bato.to vs KakaoPage: Penutupan Situs Bajakan Picu Debat Sengit di Kalangan Pembaca Manhwa, Manhua, dan Manga