“When the people are being beaten with a stick, they are not much happier if it is called ‘the People’s Stick’.”
― Mikhail Bakunin, God and the State (1882)
Sketsa.id – Gelombang unjuk rasa yang menyapu Indonesia pekan ini – dari Samarinda hingga Jakarta – kembali memantik perdebatan tentang makna “anarkisme“. Saat spanduk-spanduk dikibarkan dan suara protes bergema, istilah ini sering dicatut untuk mendeskripsikan kerusuhan. Namun, apakah kita benar-benar memahami filsafat politik yang telah menginspirasi gerakan sosial global selama dua abad ini?
Anarkisme: Seni Mengorganisir tanpa Penguasa
Anarkisme bukan kekosongan hukum, melainkan penciptaan tatanan baru yang bersifat horizontal. Filsuf Rusia Peter Kropotkin dalam magnum opus-nya The Conquest of Bread (1892) memperkenalkan konsep mutual aid – bukti bahwa spesies manusia justru berkembang melalui kerja sama sukarela, bukan kompetisi.
Dalam konteks Indonesia, prinsip ini hidup dalam tradisi gotong royong yang menjadi tulang punggung komunitas pedesaan. Seperti ditunjukkan James C. Scott dalam The Art of Not Being Governed (2009), masyarakat adat Nusantara telah lama mempraktikkan bentuk-bentuk otonomi yang menolak negara terpusat.
Anarko: Wajah-Wajah Perlawanan Kontemporer
Sementara anarkisme adalah kerangka filosofis, “anarko” merepresentasikan manifestasi praktisnya:
1. Anarko-Feminisme
Emma Goldman menantang patriarki dengan menyatakan, “If I can’t dance, it’s not my revolution“. Gerakan ini melihat negara dan kapitalisme sebagai perpanjangan dari dominasi laki-laki.
2. Anarko-Ekologisme
Murray Bookchin dalam The Ecology of Freedom (1982) berargumen bahwa penghancuran lingkungan berakar pada hierarki sosial. Perlawanan masyarakat Kendeng terhadap pabrik semen adalah contoh nyata.
3. Anarko-Sindikalisme
Rudolf Rocker menggambarkan dalam Anarcho-Syndicalism (1938) bagaimana serikat buruh dapat menjadi alat transformasi sosial tanpa partai politik.
Indigenous Anarchism: Akar Nusantara yang Terlupakan
Praktik masyarakat adat Indonesia sesungguhnya mencerminkan prinsip-prinsip anarkis yang autentik. Seperti dicatat Benedict Anderson dalam Under Three Flags (2005), gerakan anti-kolonial awal di Asia banyak terinspirasi oleh pemikir anarkis Eropa.
Suku Dayak di Kalimantan dengan tana ulen-nya, atau masyarakat Bali dengan subak-nya, menunjukkan bagaimana pengelolaan komunal dapat berjalan tanpa negara.
Beyond Black Bloc: Estetika Perlawanan Baru
Penampilan aktivis berbaju hitam (black bloc) sering disalahpahami sebagai vandalisme. Padahal, seperti dijelaskan David Graeber dalam The Utopia of Rules (2015), taktik ini justru dirancang untuk melindungi identitas sekaligus menciptakan simbolisme perlawanan yang visual.
Masa Depan Anarkisme Indonesia
Dalam era digital, prinsip anarkis menemukan bentuk baru:
– Cryptocurrency sebagai alat de-sentralisasi ekonomi
– Open source movement sebagai model produksi non-hierarkis
– Organisasi aktivis yang mengadopsi struktur horizontal
Seperti dikatakan penyair W.S. Rendra: “Kebebasan adalah sarana untuk memperjuangkan keadilan”.
Anarkisme menawarkan pisau analisis untuk membedah kekuasaan, bukan sekadar merusak jalanan. (*)









