Dua Menara, Ribuan Cerita: Mengenang Fragmen Kemanusiaan di Balik Tragedi 9/11

Kamis, 11 September 2025 - 06:01 WITA
Bagikan:
Foto; IST

New York, Sketsa.id – Setiap tanggal 11 September, dunia sejenak terhening. Memori kolektif umat manusia kembali pada peristiwa memilukan yang mengubah wajah dunia modern dalam satu pagi. Tepat 24 tahun lalu, pada Selasa pagi yang cerah di tahun 2001, serangkaian serangan terkoordinasi yang dilakukan oleh kelompok teroris Al-Qaeda menargetkan jantung ekonomi dan pertahanan Amerika Serikat.

Empat pesawat komersial dibajak. Dua di antaranya sengaja ditabrakkan ke menara kembar World Trade Center (WTC) di New York City. Dalam hitungan jam, kedua pencakar langit ikonik yang menjulang 110 lantai itu runtuh berdebum, menyisakan tumpukan puing setinggi 1,8 juta ton dan awan debu yang menyelubungi Manhattan selama berminggu-minggu.

Pesawat ketiga menghantam Pentagon, markas Departemen Pertahanan AS di Arlington, Virginia. Pesawat keempat, United Airlines Penerbangan 93, jatuh di sebuah lapangan di Pennsylvania setelah para penumpangnya berupaya merebut kendali dari para pembajak. Targetnya diduga adalah Gedung Capitol atau Gedung Putih di Washington D.C.

Korban jiwa dari serangan itu sangat besar. Sekitar 2.977 orang dari lebih dari 90 negara tewas dalam peristiwa itu, termasuk 343 petugas pemadam kebakaran dan 71 perwira polisi yang gugur saat berusaha menyelamatkan korban di World Trade Center. Ribuan lainnya mengalami luka-luka, baik fisik maupun trauma psikologis yang masih membekas hingga hari ini.

Buku “102 Minutes: The Untold Story of the Fight to Survive Inside the Twin Towers” karya Jim Dwyer dan Kevin Flynn, menjadi saksi bisu yang mendetail tentang drama kemanusiaan yang terjadi dalam waktu singkat nan kritis itu. Buku itu merekonstruksi kepanikan, kepahlawanan, dan keputusasaan yang terjadi di antara lantai 1 hingga 110. Seperti dituliskan dalam buku tersebut, “For the next 102 minutes, every decision was a potential trade-off between life and death, made in the blind” (Untuk 102 menit berikutnya, setiap keputusan adalah pertukaran potensial antara hidup dan mati, yang dibuat dalam keadaan ‘buta’).

Dampak dari peristiwa 9/11 tidak hanya berhenti pada tragedi kemanusiaan. Peristiwa itu menjadi titik balik yang mendefinisikan ulang tatanan global abad ke-21.

AS melancarkan “Perang Melawan Teror” yang berujung pada invasi ke Afghanistan (2001) untuk memburu Osama bin Laden dan ke Irak (2003). Kebijakan keamanan dan intelijen di seluruh dunia diperketat secara signifikan.

Bandara-bandara internasional mengadopsi prosedur keamanan yang jauh lebih ketat. Isu terorisme menjadi perhatian utama dalam hubungan internasional dan politik domestik banyak negara, termasuk Indonesia. Dunia memasuki era baru yang ditandai dengan ketidakpastian dan rasa waspada yang tinggi.

Ground Zero Kini: Dari Puing Menjadi Monumen Harapan

Kini, di atas tanah yang dahulu menjadi lokasi reruntuhan menara kembar—yang dikenal sebagai Ground Zero—berdiri sebuah kompleks peringatan dan pembangunan baru yang megah.

Foto: Monumen Peringatan peristiwa WTC 11 September 2001. (ist)

National September 11 Memorial & Museum didirikan sebagai tempat untuk mengenang dan merenung. Di lokasi bekas fondasi menara kembar, terletak dua kolam air terjun raksasa (reflecting pools) yang dikelilingi oleh nama-nama setiap korban yang tewas dalam serangan tahun 2001 dan juga dalam serangan bom World Trade Center tahun 1993.

Di sekitarnya, berdiri kembali kehidupan baru. One World Trade Center, yang juga dijuluki Freedom Tower, menjulang setinggi 541 meter (1.776 kaki)—angka yang simbolis merujuk pada tahun kemerdekaan AS. Pencakar langit itu kini menjadi gedung tertinggi di belahan bumi Barat dan simbol ketahanan serta pembangunan kembali.

Peringatan 9/11 tahun ini, seperti tahun-tahun sebelumnya, akan diwarnai dengan pembacaan nama para korban, momen hening, dan cahaya Tribute in Light yang menyorotkan dua beam cahaya terang ke angkasa, menggantikan siluet kedua menara yang telah hilang.

Dua dekade lebih telah berlalu, namun duka dan pelajaran dari 9/11 tetap relevan. Seperti yang direkam dalam “102 Minutes”, keputusan-keputusan heroik dalam keadaan yang hampir mustahil menjadi warisan abadi dari tragedi tersebut. Peristiwa itu tidak hanya tentang kehancuran, tetapi juga tentang ketangguhan, solidaritas kemanusiaan, dan bagaimana sebuah kota—dan dunia—berusaha bangkit dan menemukan makna baru dari puing-puing kehancuran. (*)

Bagikan:

Bato.to vs KakaoPage: Penutupan Situs Bajakan Picu Debat Sengit di Kalangan Pembaca Manhwa, Manhua, dan Manga