Emas dan Bitcoin Cetak Rekor Tertinggi, Geopolitik dan Kebijakan AS Jadi Pemicu

Rabu, 8 Oktober 2025 - 04:45 WITA
Bagikan:
Foto: Ilustrasi Bitcoin dan Emas Batangan. (ist)

WASHINGTON, Sketsa.id – Pasar aset safe haven sedang berjaya. Dalam beberapa pekan terakhir, emas dan Bitcoin mengalami kenaikan harga yang signifikan, bahkan mencatatkan rekor tertinggi baru. Investor yang memegang kedua aset ini tentu merasa diuntungkan.

Emas berhasil menembus level USD 3.900 per troy ons, setara dengan 31,1 gram. Sementara itu, Bitcoin pada Minggu (5 Oktober) untuk pertama kalinya menyentuh angka USD 125,000 sebelum akhirnya mengalami koreksi ringan.

Tahun 2025 menjadi periode yang spektakuler bagi kedua aset ini. Emas mencatatkan rally terbesarnya sejak era 1970-an dengan kenaikan harga lebih dari 50% sejak awal tahun. Bitcoin, meski mengalami volatilitas, juga menunjukkan kinerja positif dengan peningkatan nilai sekitar sepertiga sejak Januari.

Ketidakpastian Global Picu Eksodus ke Aset Aman
Lonjakan harga emas dan Bitcoin tidak lepas dari meningkatnya ketegangan geopolitik dan kebijakan ekonomi Amerika Serikat (AS) di bawah kepemimpinan Donald Trump.

Emas, yang lama dianggap sebagai pelindung nilai di masa sulit, menunjukkan kinerja cemerlang. Nilainya telah melonjak lebih dari 300% sejak akhir 2018. Kebijakan tarif impor Trump yang memicu perang dagang pada April lalu menimbulkan kekhawatiran akan stabilitas ekonomi global dan keberlangsungan utang pemerintah AS. Ketidakpastian ini mendorong investor beralih dari aset tradisional seperti dolar.

Situasi diperparah dengan perang yang berkecamuk di Ukraina dan Gaza, menambah awan gelap di langit ekonomi dunia. Ditambah lagi dengan fenomena *government shutdown* di AS yang memperlemah posisi dolar, membuat emas semakin bersinar sebagai alternatif.

“Pelemahan yen setelah pemilihan LDP di Jepang mengurangi satu pilihan safe haven bagi investor, dan emas berhasil mengambil alih peran itu,” jelas Tim Waterer, Kepala Analis Pasar di KCM Trade, kepada Reuters.

Permintaan Institusi Dorong Harga Emas
 Lonjakan emas kali ini tidak hanya didorong oleh faktor geopolitik, tetapi juga oleh minat kuat dari investor institusional. Analis Deutsche Bank mencatat adanya peningkatan permintaan terhadap Exchange-Traded Fund (ETF) yang berbasis emas.

“Fakta bahwa permintaan ETF kembali menguat menunjukkan ada dua bentuk permintaan ‘agresif’ untuk emas, yakni dari bank sentral dan investor ETF,” tulis analis Deutsche Bank dalam laporannya.

Data terbaru dari CFTC AS juga mengungkapkan bahwa hedge fund kini memegang rekor kepemilikan emas senilai USD 73 miliar, menandakan keyakinan tinggi terhadap aset logam mulia ini di tengah ketidakpastian.

Dukungan Trump dan Minat Institusi Pacu Bitcoin

Sementara itu, rally Bitcoin dipicu oleh faktor politik dan adopsi institusional. Terpilihnya kembali Donald Trump sebagai Presiden AS memberikan angin segar bagi pasar kripto. Dukungan terbuka Trump terhadap mata uang digital telah meningkatkan kepercayaan investor dan permintaan di sektor ini.

Selain itu, semakin banyak investor institusional yang mulai mengalokasikan danana mereka ke Bitcoin, mirip dengan tren yang terjadi pada emas. Aset kripto ini kini dilihat sebagai alternatif investasi di luar aset tradisional seperti dolar.

“Penutupan pemerintah AS kali ini signifikan,” tulis Geoffrey Kendrick, Kepala Riset Aset Digital di Standard Chartered Bank. “Tahun ini, bitcoin diperdagangkan dengan ‘risiko pemerintah AS’, yang tercermin dari hubungannya dengan imbal hasil obligasi pemerintah jangka panjang.”

Faktor musiman juga turut berperan. Oktober secara historis menjadi bulan yang kuat bagi Bitcoin, dimana harga aset ini hanya turun dua kali selama bulan Oktober sejak 2013.

Dengan berlarutnya ketegangan geopolitik dan kebijakan ekonomi AS yang masih menimbulkan tanda tanya, emas dan Bitcoin diperkirakan masih akan menjadi primadona investor dalam beberapa waktu ke depan. (*)

Bagikan:

Bato.to vs KakaoPage: Penutupan Situs Bajakan Picu Debat Sengit di Kalangan Pembaca Manhwa, Manhua, dan Manga