SEOUL, Sketsa.id – Sebuah fenomena budaya sedang terjadi. Di tengah hingar-bingar comeback tiga legenda K-Pop—BTS, EXO, dan Wanna One—pada awal 2026, para analis musik dan pengamat budaya pop menemukan pola yang menarik: 2026 secara mencolok sedang mengalami “banhwa” (반환, pengembalian) atau reinkarnasi vibes tahun 2017. Tahun tersebut, yang dianggap sebagai puncak “Generasi Ketiga” K-Pop, kini menyebarkan aura nostalgianya ke dalam setiap aspek comeback kali ini.
Mengapa 2017/2018 Begitu Istimewa?
Tahun 2017/2018 bukanlah tahun biasa dalam sejarah K-Pop. Ini adalah tahun di mana:
- BTS meluncurkan seri Love Yourself yang mengantarkan mereka ke panggung global sesungguhnya, dimulai dengan “DNA” yang memecahkan rekor YouTube.
- EXO merilis album The War dengan singel monumental “Ko Ko Bop”, memperkuat posisi mereka sebagai “Raja Album” dengan penjualan fisik yang fantastis.
- Wanna One debut dengan “Energetic” setelah memenangkan Produce 101 Season 2, menciptakan “Syndrome Wanna One” yang melanda Asia dan mendefinisikan ulang kesuksesan grup survival show.
Tahun itu memadukan inovasi musik, storytelling yang ambisius, dan ledakan fandom digital yang belum pernah terjadi sebelumnya. Kini, getaran era itu terasa kembali.
Analisis Banhwa: Pararel Antara 2017 dan Comeback 2026
Pengamatan mendetail menunjukkan bahwa comeback 2026 bukan sekadar rilis musik baru, melainkan resonansi yang disengaja dengan warisan 2017.
- BTS: Dari Love Yourself ke Self-Acceptance
Jika seri Love Yourself (2017-2018) membahas perjalanan menemukan cinta untuk diri sendiri dan orang lain, spekulasi kuat di kalangan ARMY dan analis musik adalah bahwa tema comeback 2026 akan naik tingkat menjadi “Self-Acceptance” atau “Chapter of Completion”. Ini adalah evolusi logis dari narasi yang mereka bangun hampir satu dekade lalu. World tour yang diumumkan diperkirakan akan menjadi perayaan sekaligus refleksi atas perjalanan panjang tersebut, menciptakan full-circle moment yang sangat emotif bagi fans yang mengikuti sejak era 2017. - EXO: Kembali ke Akar SMP dengan Nuansa The War
Album The War (2017) adalah puncak dari gaya musik SM Performance (SMP) EXO—kompleks, teatrikal, dan penuh dengan elepsi world-building. Bocoran dari para member bahwa comeback “REVERXE” akan kembali ke genre SMP adalah sinyal kuat. Ini adalah upaya untuk menghubungkan kembali dengan identitas musik inti mereka yang paling dikenang dan dielu-elukan, terutama oleh fandom inti yang setia sejak era The War. Dalam konteks formasi yang berubah, mengangkat estetika 2017 adalah pernyataan bahwa “jiwa” EXO tetap hidup. - Wanna One: Nostalgia Murni “Energetic 2017”
Wanna One adalah tahun 2017. Mereka tidak memiliki era lain. Oleh karena itu, reuni mereka di 2026 adalah perwujudan paling murni dari banhwa 2017. Setiap potongan variety show, setiap penampilan, dan setiap interaksi anggota akan dibandingkan dan dinikmati melalui lensa nostalgia masa debut mereka. Hal ini menciptakan daya pikat yang unik: bukan untuk mengejar tren baru, tetapi untuk menjembatani waktu dan menghidupkan kembali perasaan “Energetic” yang pernah menyatukan K-Pop fans pada 2017.
Dampak Sosial-Budaya: Kolektif Memory di Era Digital
Ledakan percakapan di platform X dan TikTok dengan tagar seperti #2017KpopVibes dan #ThrowbackTo3rdGen membuktikan bahwa ini adalah pengalaman kolektif. Generasi fans yang kini beranjak dewasa—yang mungkin sedang menjalani kehidupan kerja atau kuliah—mendapatkan pelarian emosional yang manis. Mereka bisa sejenak kembali ke masa remaja atau awal dua puluhan mereka, ketika mendengar “Spring Day” atau “Energetic” untuk pertama kalinya.
Bagi industri, fenomena ini menunjukkan daya tahan dan nilai siklus dari budaya pop. Ketika tren generasi keempat mungkin terasa semakin niche atau eksperimental, kembalinya estetika generasi ketiga yang lebih fokus pada musik kuat, koreografi ikonik, dan storytelling yang kohesif justru terasa seperti “napas udara segar” yang familiar.
Kesimpulan: Sebuah Siklus yang Penuh Makna
Comeback BTS, EXO, dan Wanna One di 2026 telah melampaui batas sebagai sekadar peristiwa musik. Ini telah menjadi fenomena budaya yang merefleksikan keinginan akan keutuhan, akar, dan makna. Dengan secara sadar maupun tidak menyentuh kembali vibes tahun 2017—tahun keemasan mereka—mereka tidak hanya memenuhi kerinduan fans, tetapi juga menegaskan bahwa dalam siklus budaya pop, masa lalu yang berkualitas selalu memiliki caranya sendiri untuk menemukan relevansinya di masa kini.
Tahun 2026, dengan demikian, mungkin akan dikenang bukan hanya sebagai tahun comeback para raja, tetapi juga sebagai tahun di mana K-Pop berhenti sejenak, menoleh ke belakang ke puncak kejayaannya, dan membawa kehangatan era itu ke dalam lanskap modern yang terus berubah. (cc)










