Fakta di Balik Keracunan 25 Siswa PPU: SPPG Akui Beli Makanan dari Pihak Ketiga, Tak Patuhi Standar

Kamis, 12 Februari 2026 - 08:21 WITA
Bagikan:
Foto: ist

Penajam Paser Utara, Sketsa.id – Ruang UKS SD Negeri 008 Waru mendadak penuh. Bukan karena ada pemeriksaan rutin, tapi karena puluhan siswa bergelimpangan.

Perut melilit. Muntah di mana-mana. Beberapa bahkan sampai sesak napas.

Total 25 anak—16 laki-laki dan 9 perempuan—harus dilarikan ke Puskesmas Waru. Semua mengalami gejala keracunan makanan.

Sumbernya? Hidangan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang baru saja mereka santap saat jam istirahat.

Wabup Turun Tangan

Kabar keracunan massal ini cepat sampai ke Wakil Bupati PPU, Abdul Waris Muin. Ia langsung meninjau kondisi para siswa yang tengah dirawat.

Dari pendampingan medis, seluruh anak mendapat penanganan optimal. Namun pertanyaan besarnya tetap menggantung: kenapa bisa terjadi?

SPPG Akui Beli dari UMKM, Bukan Masak Sendiri

Kepala Disdikpora PPU Andi Singkerru buka suara. Setelah dikonfirmasi, pihak Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) mengaku sebagian menu MBG hari itu tidak dimasak oleh petugas resmi mereka.

Melainkan dibeli dari pihak ketiga. Dari UMKM masyarakat.

“Info dari SPPG, memang benar ada menu yang dibeli dari masyarakat hari ini. Kami sudah konfirmasi dan mereka membenarkan,” ujar Andi.

Ia tak menyembunyikan kekecewaan.

“Ini yang terakhir kalinya,” tegasnya.

Standar Program Dilanggar

Andi menjelaskan, aturan main program ini sebenarnya sudah sangat jelas. Seluruh makanan wajib diolah sendiri oleh petugas SPPG yang telah direkrut dan dilatih.

Bukan dibeli dari luar.

“Makan tidak boleh diambil dari luar. Harus diolah sendiri oleh SPPG. Itulah gunanya kita merekrut dan melatih petugas pengolah, agar makanan yang sampai ke tangan anak-anak benar-benar higienis, bergizi, dan terpantau kualitasnya,” katanya.

Pelanggaran prosedur inilah yang diduga kuat menjadi biang kerok.

Pemanggilan dan Pengawasan Ketat

Pemerintah Kabupaten PPU tak tinggal diam. Seluruh pihak yang terlibat dalam pelaksanaan program akan dipanggil. Termasuk pengelola SPPG. Tujuannya satu: mencari akar masalah dan memastikan tak ada korban berikutnya.

Meski insiden ini mencoreng wajah program, Pemkab PPU memastikan MBG tetap berjalan.

Namun dengan satu syarat: pengawasan diperketat. Tak ada lagi celah bagi makanan dari luar masuk ke piring siswa.

Sebab, program yang lahir dari niat baik tak boleh berakhir di ranjang puskesmas. (*)

Bagikan:

Bato.to vs KakaoPage: Penutupan Situs Bajakan Picu Debat Sengit di Kalangan Pembaca Manhwa, Manhua, dan Manga