Sketsa.id – Ia bukan sekadar lumba-lumba. Pesut Mahakam adalah mahkota Sungai Mahakam, satwa endemik yang tak ditemukan di tempat lain di dunia. Tapi mahkota itu kini nyaris terjatuh.
Populasi pesut Mahakam terus menyusut drastis. Pada 2023, masih tercatat 76 ekor. Di 2025, angin membawa kabar buruk: tersisa sekitar 60 ekor. Turun 20 persen dalam dua tahun. Setiap tahun, hanya 7 anak yang lahir—jumlah yang tak sebanding dengan laju kematian.
Status konservasinya sudah di level tertinggi: CRITICALLY ENDANGERED. Ambang batas sebelum punah di alam liar.
Tiga Zona, Tiga Wajah
Peta sebaran pesut Mahakam kini seperti potret buram fragmentasi habitat.
Zona Merah (Hilir) — Mendekati muara, zona ini nyaris mati. Lalu lintas kapal padat, polusi tinggi, dan aktivitas manusia yang tak kenal jeda membuat pesut pergi. Populasinya di sini: hampir 0 persen. Ditinggalkan.
Zona Hijau (Middle Mahakam, Kutai Kartanegara) — Ini adalah benteng terakhir. Sekitar 90 persen populasi pesut masih bertahan di kawasan ini. Hamparan danau dan perairan tenang jadi rumah terakhir mereka. Pemerintah mengusulkan kawasan lindung seluas 43.117 hektare. Tapi usulan tak cukup jika tak segera disahkan.
Zona Kuning (Hulu, Kutai Barat) — Di hulu, ancaman berbeda: sawit. Degradasi habitat akibat konversi lahan membuat pesut kian terdesak. Kurang dari 10 persen populasi masih bertahan. Statusnya: terancam.
Antara Kapal, Sawit, dan Keberpihakan
Pesut Mahakam tak bisa bersuara. Ia hanya bisa berenang menjauh saat kebisingan kapal memekakkan telinga. Ia hanya bisa diam saat air yang jadi rumahnya tercemar limbah. Ia hanya bisa menghilang saat hutan di tepian diganti sawit.
Manusia punya pilihan. Pesut tidak.
Usulan kawasan lindung 43.117 hektare di Kutai Kartanegara mungkin jadi harapan terakhir. Tapi harapan butuh kepastian, bukan sekadar dokumen. Butuh patroli, butuh penegakan hukum, butuh keberpihakan nyata.
Karena jika zona hijau berubah merah, tak akan ada lagi pesut di Mahakam. Kecuali dalam buku merah spesies yang telah punah.















