Kutai Kartanegara, Sketsa.id – Jembatan Bokpitung di RT 01 Desa Bangun Rejo, Kecamatan Tenggarong Seberang, yang menjadi satu-satunya akses vital bagi petani, kini dalam kondisi memprihatinkan. Jembatan kayu berusia puluhan tahun ini mulai amblas dan tidak layak dilalui, mengancam aktivitas pertanian di lahan seluas 315 hektare.
Wakil Bupati Kutai Kartanegara Rendi Solihin meninjau langsung kondisi jembatan yang rusak tersebut, Rabu (5/11). “Jembatan ini menghubungkan tiga desa dengan 315 hektare usaha tani sawah dan jagung. Kondisinya sudah mulai ambruk dan sering banjir,” ungkap Rendi.
Menurut Wabup, laporan kerusakan baru masuk November 2025. Pemerintah akan mengalokasikan anggaran untuk perbaikan, baik melalui rehabilitasi kayu dengan konstruksi lebih kuat atau pergantian total menjadi jembatan beton.
“Mudah-mudahan bisa terbantukan tahun depan atau tahun berikutnya. Kita coba anggarkan,” janji Rendi.
Kepala Desa Bangun Rejo Yuyun Porwanti mengungkapkan, jembatan sepanjang enam meter ini sudah puluhan tahun tidak diperbaiki meski telah diajukan berkali-kali. “Ini satu-satunya akses kelompok tani dan penghubung antar desa. Sekarang amblas dan tidak bisa dilalui,” tegas Yuyun.
Jembatan Bokpitung tidak hanya menghubungkan warga Bangun Rejo, tetapi juga menjadi akses petani menuju Desa Embalut. Saat musim panen, jembatan ini menjadi jalur vital untuk memindahkan hasil pertanian, termasuk dari lahan eks tambang PT Kitadin yang kini dimanfaatkan sebagai lahan jagung.
“Kalau panen, jalur ini yang dipakai supaya cepat. Karena rusak, kami harus memutar jauh. Harapannya setelah Pak Wakil datang, perbaikan bisa segera dipercepat,” harap Yuyun. (Cc/Adv/Diskominfo Kukar)









