Kisah Pilu dan Pulihnya Jack, Bayi Orangutan Korban Kebun Sawit 

Rabu, 28 Januari 2026 - 07:17 WITA
Bagikan:
Foto: potret Jack saat bermain.

Kutai Timur, Sketsa.id – Demam, keringkihan, dan luka bernanah akibat duri kelapa sawit menjadi gambaran pilu Jack, seekor bayi orangutan Kalimantan, saat pertama kali diselamatkan. Bayi yang belum genap setahun itu ditemukan warga di bawah tegakan sawit di Desa Miau Baru, Kabupaten Kutai Timur, pada akhir November lalu.

Selama tiga hari, Jack dirawat oleh keluarga yang menemukannya sebelum akhirnya dilaporkan ke Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Timur. Dari tangan warga, Jack kemudian menjalani proses rehabilitasi di Pusat Penyelamatan Satwa (PPS) Long Sam, yang dikelola oleh Conservation Action Network (CAN).

Paulinus Kristanto, Founder dan Direktur CAN, menceritakan kondisi Jack kala itu. “Ketika pertama kali datang menunjukkan adanya tanda-tanda tidak baik. Stres, demam, dan ada beberapa duri yang menyebabkan nanah,” ujarnya dalam wawancara eksklusif.

kondisi Jack berangsur membaik. “Perubahannya signifikan. Tubuhnya mulai membaik, luka-lukanya mulai sembuh. Sekarang Jack sudah bisa dibawa ke playground untuk bermain,” tutur Paulinus dengan nada lega. Pemeriksaan darah terbaru juga menunjukkan tidak ada kelainan pada bayi orangutan tersebut.

Kepala BKSDA Kaltim, M Ari Wibawanto, menyampaikan alur penanganan satwa langka yang dilindungi ini. “Kami segera tindaklanjuti laporan masyarakat dan mengambil Jack untuk direhabilitasi. Harapannya, dari sisi kesehatan dan keliarannya baik, sehingga dapat dilepasliarkan kembali,” jelas Ari.

Kini, Jack mulai diperkenalkan dengan dua orangutan lain di PPS Long Sam, Hannes dan Lukas. Meski masih terlihat lebih sering menyendiri, hal itu justru dianggap pertanda baik. “Itu menunjukkan Jack mulai menyesuaikan diri dan tidak lagi takut berlebihan pada manusia,” pungkas Paulinus.

Perjalanan Jack dari kegelapan kebun sawit menuju harapan di hutan rehabilitasi menjadi pengingat akan ancaman nyata yang dihadapi satwa endemik Kalimantan akibat konflik ruang, dan pentingnya kolaborasi masyarakat, pemerintah, dan lembaga konservasi dalam penyelamatan. (*)

Bagikan:

Bato.to vs KakaoPage: Penutupan Situs Bajakan Picu Debat Sengit di Kalangan Pembaca Manhwa, Manhua, dan Manga