Jakarta, Sketsa.id – Laga penting Timnas Indonesia melawan Arab Saudi dalam Kualifikasi Piala Dunia 2026 justru dinodai oleh sejumlah kontroversi wasit. Pertandingan yang digelar di Stadion King Abdullah Sports City, Jeddah, Rabu (8/10/2025) waktu setempat ini berakhir dengan kekecewaan bagi Skuad Garuda, bukan hanya karena hasil pertandingan, tetapi juga karena berbagai keputusan kontroversial dari wasit.
Publik sepak bola Indonesia dibuat geram oleh tiga momen utama yang dianggap merugikan perjalanan tim nasional dalam pertandingan krusial ini.
1. Penunjukan Wasit yang Dipertanyakan Sejak Awal
Kontroversi sudah dimulai bahkan sebelum bola menggelinding. PSSI ternyata telah mengirimkan surat keberatan resmi terhadap penunjukan wasit asal Kuwait, Ahmad Al Ali, yang ditugaskan memimpin pertandingan ini.
Kekhawatiran PSSI cukup beralasan. Secara geografis dan kultural, Kuwait memiliki kedekatan dengan Arab Saudi sebagai tuan rumah. Banyak pihak mempertanyakan mengapa tidak dipilih wasit dari wilayah yang lebih netral, seperti Asia Timur.
Sayangnya, protes PSSI tidak digubris. Dan kekhawatiran itu terbukti di lapangan. Pemain Indonesia seolah dihakimi dengan standar yang berbeda. Pelanggaran ringan dari Skuad Garuda langsung diganjar kartu, sementara tindakan serupa dari pemain Arab Saudi sering kali dibiarkan.
Pelatih Patrick Kluivert yang sebelumnya telah menyampaikan harapannya agar pertandingan berjalan fair, tampak beberapa kali menyampaikan kekecewaannya dari pinggir lapangan.
2. PSSI Berjuang Sendirian Melawan Otoritas Sepak Bola
Upaya PSSI untuk memperjuangkan keadilan ternyata berhadapan dengan tembok kokoh. Baik AFC maupun FIFA menolak keberatan yang diajukan federasi sepak bola Indonesia tersebut.
Alasan penolakan dari kedua badan sepak bola tertinggi ini terkesan birokratis. AFC menyatakan semua penunjukan wasit telah melalui proses yang sesuai regulasi, sementara FIFA bersikukuh hanya akan mengganti wasit jika ada pelanggaran prosedur.
Penolakan ini membuat PSSI bagai menabrak tembok beton. Tidak ada ruang dialog untuk membahas kekhawatiran yang sebenarnya sangat legitimate. Banyak pengamat menilai sikap kaku dari AFC dan FIFA ini justru merugikan prinsip keadilan dalam sepak bola.
3. Harapan Keadilan yang Pupus di Lapangan Hijau
Yang paling menyakitkan adalah pupusnya harapan untuk mendapatkan pertandingan yang fair. Padahal, pelatih Patrick Kluivert secara khusus telah menekankan pentingnya netralitas wasit dalam konferensi pers sebelum laga.
“Kami berharap semua pihak, termasuk wasit, dapat bertindak profesional. Kemenangan hanya bermakna jika diperoleh secara fair,” kata Kluivert saat sesi latihan di Jeddah.
Namun harapan itu buyar seiring berjalannya pertandingan. Keputusan-keputwasit yang tidak konsisten secara nyata mempengaruhi permainan Indonesia. Pemain tampak harus berjuang melawan dua hal sekaligus: lawan di lapangan dan ketidakpastian dari wasit.
Kontroversi dalam laga ini menjadi pelajaran berharga tentang betapa pentingnya integritas pertandingan. Sepak bola seharusnya dijalankan dengan prinsip sportivitas dan keadilan, bukan dibayang-bayangi keputusan-keputusan yang dipertanyakan. (*)









