Ledakan Bom Waktu: Rilis Jutaan Dokumen Rahasia Epstein Buka Tabir Jaringan Gelap Elite Global

Rabu, 4 Februari 2026 - 07:00 WITA
Bagikan:
Foto: clios of Epstein Files Release. ( by DOJ U.S)

Jakarta, Sketsa.id – Dalam sebuah aksi yang digambarkan sebagai “bom waktu” informasi, Departemen Kehakiman Amerika Serikat (DOJ) pada 30 Januari 2026 merilis lebih dari 3 juta halaman dokumen, 2.000 video, dan 180.000 gambar hasil penyelidikan kasus Jeffrey Epstein. Rilis masif ini, yang didorong oleh UU Epstein Files Transparency Act yang ditandatangani Presiden Donald Trump, bukan sekadar arsip lama. Ia bagaikan kunci yang membuka pintu menuju salah satu skandal terbesar abad ini, mengungkap jejaring gelap perdagangan manusia, pelecehan seksual terhadap anak di bawah umur, dan lingkaran elite global yang diduga terlibat atau melindunginya.

Jejak Panjang Skandal yang Tak Kunjung Usai
Nama Jeffrey Epstein sudah lama menjadi sinonim dengan kekayaan, kekuasaan, dan kekejian. Finansial yang pada 2019 ditangkap atas tuduhan trafficking seksual ini meninggal secara misterius di sel penjaranya, dengan penyebab resmi bunuh diri yang masih dipertanyakan banyak pihak. Rilis dokumen sebelumnya pada 2024 telah menyebut nama-nama besar seperti Bill Clinton dan Pangeran Andrew. Namun, rilis terbaru ini jauh lebih luas dan dalam, mencakup email, pesan teks, laporan investigasi internal, hingga rekaman video dari dalam sel Epstein.

Yang paling mencengangkan, dokumen-dokumen ini menguatkan dugaan bahwa Epstein bukanlah predator yang bekerja sendiri. Ia diduga menjalankan semacam “jasa peminjaman” korbannya—banyak di antaranya gadis di bawah umur—kepada jaringan pria-pria berkuasa dan berpengaruh di dunia.

Daftar Tamu di “Pesta Neraka”: Dari Mantan Presiden hingga Raja Teknologi
Rilis dokumen ini seperti membeberkan daftar tamu undangan dari sebuah pesta yang gelap. Nama-nama yang muncul membentang dari dunia politik, bisnis, hingga hiburan.

Presiden Amerika Serikat ke-45, Donald Trump, disebut dalam laporan FBI yang mengompilasi tuduhan pelecehan seksual, termasuk klaim yang sangat serius dari seorang wanita yang mengaku diperkosa oleh Trump dan Epstein pada 1994 saat ia berusia 13 tahun. Seorang korban lain menyatakan bahwa Ghislaine Maxwell (rekan Epstein yang kini di penjara) pernah “menawarkannya” kepada Trump di sebuah pesta, meski tidak terjadi kontak lebih lanjut. Trump membantah semua tuduhan ini dengan keras.

Elon Musk, CEO Tesla dan SpaceX, juga muncul dalam dokumen. Terungkap bahwa terdapat koordinasi untuk kunjungan Musk ke pulau pribadi Epstein, Little St. James, pada tahun 2013. Musk membantah pernah mengunjungi pulau tersebut.

Nama-nama lain yang tercantum termasuk mantan Presiden AS Bill Clinton, mantan Perdana Menteri Israel Ehud Barak (yang kerap menginap di apartemen Epstein di New York), miliarder Leon Black, hingga tokoh-tokoh seperti Larry Summers (mantan Menteri Keuangan AS) dan sutradara Woody Allen.

Kontroversi dan Luka yang Terbuka Kembali

Di balik gembar-gembor transparansi, rilis ini menuai kontroversi sendiri. Pengacara para korban Epstein mengeluhkan bahwa DOJ secara ceroboh merilis dokumen tanpa meredaksi (menyensor) nama-nama sejumlah korban, termasuk mereka yang identitasnya belum pernah terungkap ke publik. Hal ini dinilai kembali melukai dan membahayakan para korban. DOJ kemudian menarik kembali ribuan dokumen untuk diperbaiki, namun kerusakan moral sudah terjadi.

FOTO: cuplikan file epstein yang dipublikasikan secara umum.

Di panggung internasional, gelombang dokumen ini memicu dampak langsung. Di Slovakia, seorang pejabat tinggi mengundurkan diri setelah namanya disebut. Di Inggris, muncul seruan baru agar Pangeran Andrew bekerja sama lebih jauh dengan penyelidik.

Pertanyaan Besar yang Masih Menggantung
Rilis ini mungkin yang terbesar, tetapi bukan yang terakhir. Banyak pertanyaan yang masih menggantung: Apakah akan ada tuntutan hukum baru terhadap nama-nama yang disebut? Mengapa investigasi terhadap dugaan pihak ketiga seperti Harvey Weinstein atau Leon Black yang disebut dalam kesaksian korban seolah mandek? Apakah ada sistem perlindungan bagi elite yang memungkinkan mereka lolos dari jerat hukum selama ini?

Wakil Jaksa Agung Todd Blanche menyatakan ini adalah rilis besar terakhir. Namun, anggota Kongres dan pengacara korban terus mendesak agar versi lengkap tanpa redaksi dibuka untuk publik. Skandal Epstein, melalui ledakan “bom waktu” dokumen ini, sekali lagi mengingatkan dunia tentang keberadaan kegelapan di balik tampilan kekuasaan dan glamor, serta perlunya pertanggungjawaban yang nyata—tanpa memandang status atau kekayaan. (*)

Bagikan:

Bato.to vs KakaoPage: Penutupan Situs Bajakan Picu Debat Sengit di Kalangan Pembaca Manhwa, Manhua, dan Manga