Makna di Balik Nuansa Hitam: Busana Duka dalam Tradisi Keraton Jawa

Rabu, 5 November 2025 - 06:43 WITA
Bagikan:
Foto: ist

Surakarta, Sketsa.id – Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat tengah berduka. Pakubuwono XIII (PB XIII) Hangabehi telah berpulang, meninggalkan duka mendalam di hati seluruh keluarga keraton dan masyarakat Solo. Hari ini, Sang Raja dimakamkan dengan penuh kehormatan di Astana Pajimatan Imogiri, Yogyakarta, mengiringi perjalanan terakhirnya ke peristirahatan abadi.

Suasana duka menyelimuti setiap sudut keraton. Nuansa hitam terlihat di mana-mana, mulai dari bendera hingga busana yang dikenakan para pelayat. Bahkan ketika rombongan Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat yang dipimpin langsung oleh Sri Sultan Hamengkubuwana X hadir, mereka semua mengenakan busana hitam – termasuk Ratu dan putri-putri keraton.

Warna Keabadian dalam Budaya Jawa

Dalam filosofi Jawa, hitam bukan sekadar warna. Ia menyimpan makna mendalam tentang kehidupan dan kematian. Menurut Pusat Penelitian Sejarah dan Budaya Kemendikbud, setiap warna dalam budaya Jawa memiliki makna filosofisnya sendiri.

“Hitam melambangkan keabadian,” tulis salah satu naskah kuno Jawa yang dikutip dalam penelitian tersebut. Warna ini dipilih karena diyakini mencerminkan ketenangan, kedalaman, dan sifat abadi dari jiwa yang telah kembali ke sang pencipta.

Sementara warna-warna lain dalam budaya Jawa memiliki makna masing-masing: kuning untuk ketuhanan, merah untuk keberanian, putih untuk kesucian, ungu untuk berkabung, dan hijau untuk perdamaian.

Tradisi Lintas Zaman dan Peradaban

Tradisi mengenakan busana hitam saat berduka ternyata tidak hanya milik budaya Jawa. Riset Journal of Antiques dalam “The Evolution of Mourning Wear” mengungkapkan bahwa budaya Barat juga memiliki tradisi serupa.

Sejarawan mencatat, tradisi ini bermula dari masa Kekaisaran Romawi. Saat menghadiri pemakaman, masyarakat Romawi kuno mengenakan toga berwarna gelap yang disebut toga pulla. Pilihan warna gelap ini menjadi simbol kesedihan mereka atas kepergian orang yang dicintai.

Tradisi ini kemudian menyebar ke Inggris dan mencapai puncaknya pada era Ratu Victoria. Sang Ratu dikenal mengenakan pakaian hitam selama setahun penuh setelah suaminya, Pangeran Albert, meninggal dunia. Kesetiaannya dalam berkabung ini kemudian menjadi tradisi yang bertahan hingga kini.

Yang menarik, meski terpisah oleh jarak dan budaya, tradisi Jawa dan Barat ternyata bertemu dalam pemilihan warna hitam sebagai simbol duka. Baik di keraton-keraton Jawa maupun istana-istana Eropa, hitam dipilih sebagai warna yang paling tepat untuk mengungkapkan rasa kehilangan yang mendalam.

Dalam konteks pemakaman Pakubuwono XIII, busana hitam yang dikenakan oleh keluarga keraton, tamu undangan, dan masyarakat bukan sekadar formalitas. Ia adalah simbol penghormatan terakhir, ungkapan duka yang dalam, dan pengakuan akan keabadian sang raja dalam ingatan kolektif masyarakat Jawa.

Saat iring-iringan jenazah bergerak menuju Imogiri, nuansa hitam yang menyelimuti keraton seakan berbicara tentang sebuah perjalanan – dari yang fana menuju yang abadi, dari yang kasat mata menuju yang tak terlihat, namun tetap hidup dalam kenangan dan doa. (*)

Bagikan:

Bato.to vs KakaoPage: Penutupan Situs Bajakan Picu Debat Sengit di Kalangan Pembaca Manhwa, Manhua, dan Manga