Jakarta, Sketsa.id – Nama Kompol Cosmas Kaju Gae kini terdengar luas publik, sayangnya, di ujung sebuah insiden berduka. Namun, jauh sebelum sidang etik memutuskan nasibnya, pria berpangkat Komisaris Polisi ini adalah seorang perwira menengah dengan catatan karier yang solid dan penuh prestasi di tubuh Korps Brigade Mobil (Brimob) Polri.
Sebelum menjabat sebagai Komandan Batalyon C Resimen IV Pasukan Pelopor Korps Brimob Polda Metro Jaya, Cosmas telah menapaki tangga karier dengan mengemban berbagai posisi strategis dan krusial. Pondasi profesionalismenya dibangun di kesatuan elite Brimob.
Jejak di Kesatuan Elite dan Pelatihan
Perjalanannya dimulai dari Satuan Gegana, unit khusus penanggulangan teror dan bahan peledak di dalam Brimob. Pengalaman di Gegana membentuknya menjadi perwira yang tangguh, cekatan, dan terbiasa menghadapi situasi berisiko tinggi.
Tak hanya terlibat di operasi lapangan, Cosmas juga dipercaya untuk mencetak bibit-bibit unggul Brimob masa depan. Ia pernah mengabdikan ilmunya di Satuan Latihan Brimob Polri, bahkan sempat menjabat sebagai Ps (Pelaksana Tugas) Kakorta (Kepala Korps Taruna) Satuan Latihan Korps Brimob Polri. Posisi ini menunjukkan kepercayaan institusi terhadap kapasitas leadership dan pengetahuannya.
Pematangan di Berbagai Posisi Komando
Kariernya terus menanjak dengan dipercaya memegang peran komando. Cosmas pernah ditugaskan sebagai Ps Wadanden (Wakil Komandan Detasemen) Denbang (Detasemen Bahasa) Satuan Bantuan Teknis Pasukan Gegana Korps Brimob Polri. Pengalaman ini semakin mengasah kemampuannya dalam memimpin dan mengelola satuan.
Sebelum akhirnya memimpin sebuah batalyon, ia juga pernah menduduki posisi sebagai Wakil Kepala Subden I Den D Korps Brimob Polri, yang semakin mematangkan pemahamannya tentang struktur dan taktik operasional Brimob.
Puncak Tanggung Jawab: Memimpin Pasukan Pelopor
Jabatan terakhirnya sebagai Danyon C Pasukan Pelopor adalah puncak dari perjalanan kariernya. Pasukan Pelopor adalah ujung tombak pengendalian kerusuhan dan operasi pengamanan lapangan. Posisi ini bukan hanya soal pangkat, melainkan amanah besar untuk menjaga keselamatan anggotanya dan masyarakat di tengah situasi yang paling kacau sekalipun.
Itulah yang membuat kejatuhannya terasa begitu ironis dan menyedihkan. Di balik putusan etik yang memecatnya, tersimpan cerita tentang seorang perwira yang dibentuk oleh institusi untuk menjadi yang terdepan, yang akhirnya harus jatuh justru saat ia berada di garis depan, menjalankan perintah yang diyakininya sebagai bentuk tanggung jawab.
Perjalanan karier Kompol Cosmas adalah gambaran klasik tentang seorang polisi karier yang dibesarkan oleh sistem, naik pangkat berdasarkan pengalaman dan prestasi, namun harus menghadapi konsekuensi paling berat yang dapat dialami seorang perwira: kehilangan kehormatan yang telah dibangunnya selama puluhan tahun. (*)









