Jakarta, Sketsa.id – Sebuah foto sederhana bermain domino justru memantik badai kontroversi untuk Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni. Dalam foto yang viral di media sosial itu, sang menteri terlihat asyik bermain domino bersama Abdul Kadir Karding (Menteri P2MI) dan seorang pengusaha, Azis Wellang. Yang menjadi persoalan, Azis bukanlah orang sembarangan; ia pernah berstatus tersangka dalam kasus pembalakan liar yang menjadi musuh besar kementerian yang dipimpin Raja Juli.
Dalam pernyataannya yang dikeluarkan pada Minggu (7/9), Menhut Raja Juli Antoni berusaha meredam kontroversi dengan menyatakan bahwa dirinya sama sekali tidak mengenal Azis Wellang sebelum kejadian tersebut.
“Saya tidak mengenal dua pemain lain di meja itu, dan tidak ada pembicaraan soal kasus apa pun saat itu,” tegasnya.
“Setelah berita ini viral, saya baru mengetahui bahwa salah satu di antara mereka adalah Azis Wellang, yang disebut-sebut sebagai pelaku pembalakan liar.” tambahnya.
Raja Juli bercerita, momen itu bermula dari pertemuannya dengan Abdul Kadir Karding di posko KKSS untuk berdiskusi. Usai berbincang sekitar dua jam, ia diajak ke ruang tamu yang sedang ramai. Di sana, beberapa orang, termasuk Azis, sedang bermain domino. Raja Juli mengaku hanya “ikut bermain sebentar” sebelum akhirnya pulang.
Publik sulit menerima alibi ‘tidak kenal‘ tersebut. Pasalnya, kasus yang menjerat Azis Wellang pada November 2024 lalu bukanlah kasus kecil. Bersama dua orang lainnya, Azis yang merupakan Dirut PT ABL ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus penebangan liar di Kabupaten Katingan, Kalimantan Tengah.
Aktivitas ilegal yang terjadi di luar konsesi perusahaan itu diduga menghasilkan ribuan meter kubik kayu dan merugikan negara hingga miliaran rupiah. Meski status tersangka Azis akhirnya dibatalkan melalui jalur praperadilan pada Desember 2024, aroma masalah hukumnya masih melekat kuat pada namanya.
Kontroversi ini ibarat buah simalakama bagi Raja Juli Antoni. Di satu sisi, ia dengan tegas menyatakan komitmennya: “Siapa pun yang melanggar hukum di kawasan hutan, termasuk pembalak liar, akan saya tindak tanpa pandang bulu.”
Namun di sisi lain, foto tersebut dengan mudahnya menciptakan narasi yang bertolak belakang dengan komitmennya. Bagaimana mungkin seorang menteri yang berjanji memberantas pembalakan liar justru terlihat akrab bermain dengan orang yang pernah disangkakan melakukan hal tersebut?
Insiden ini menjadi pengingat keras tentang betapa sensitifnya posisi dan pergaulan seorang pejabat publik. Di era di mana setiap tindakan bisa dengan mudah terekam dan viral, sebuah game domino yang barangkali dimaksudkan untuk bersantai, justru berubah menjadi permainan reputasi yang berisiko tinggi. Kredibilitas Raja Juli Antoni kini diuji, bukan hanya lewat kata-kata, tetapi lewat tindak tanduknya di luar kantor. (*)









