Kutai Kartanegara, Sketsa.id – Sebuah landmark baru yang sarat makna sejarah kini berdiri megah di jantung Kalimantan Timur. Patung Presiden Pertama Republik Indonesia, Ir. Soekarno, secara resmi ditegakkan di kawasan eks aset Pertamina, Sanga-Sanga, Kutai Kartanegara, pada Selasa (27/1)sore. Lebih dari sekadar monumen, patung yang diklaim sebagai yang tertinggi di luar Pulau Jawa ini menjadi pusat dari sebuah ruang terbuka hijau (RTH) yang dirancang sebagai ruang publik dan edukasi bagi masyarakat.
Kehadiran patung ini merupakan kulminasi dari proses panjang dan penuh ketelitian. Tokoh masyarakat Kutai Kartanegara, Edi Damansyah, mengungkapkan bahwa inisiatif pembangunannya dilakukan dengan penuh penghormatan, termasuk dengan terlebih dahulu berkoordinasi dan meminta arahan langsung dari keluarga besar Sang Proklamator.
“Sanga-Sanga memiliki gelar sebagai zona juang. Gelar itu tidak boleh hanya menjadi label di atas kertas, tetapi harus dihidupkan melalui karya nyata yang bisa menginspirasi. Kehadiran patung Bung Karno dan ruang terbuka hijau ini adalah ikon untuk mengingatkan kita semua akan semangat perjuangan itu,” jelas Edi Damansyah dalam sambutannya.
Acara peresmian yang khidmat tersebut turut dihadiri oleh Djarot Saiful Hidayat, yang mewakili keluarga besar Bung Karno. Dalam pidatonya, Djarot menekankan bahwa nilai terpenting dari pendirian monumen ini bukan terletak pada fisiknya, melainkan pada kemampuannya menyalakan kembali api semangat dan pemikiran Sang Putra Fajar.
“Patung ini harus menjadi guru yang bisu, tetapi pesannya harus menggema. Apa yang diperjuangkan Bung Karno sepanjang hayatnya? Tidak lain adalah kemanusiaan, kemerdekaan, keadilan sosial, dan persatuan. Melihat patung ini harus mendorong kita untuk bertanya: sudah sejauh mana kita mewujudkan cita-cita luhur tersebut?” tutur Djarot dengan penuh semangat.

Djarot juga menyelipkan pesan mendalam Bung Karno tentang kelestarian alam, yang relevan dengan fungsi RTH di sekitarnya. Ia mengutip teladan kecil Bung Karno yang dihukum ayahnya karena menyakiti burung, sebagai ajaran untuk tidak menyakiti sesama makhluk dan alam. “Jagalah lingkungan Kutai Kartanegara. Jika kita merusak alam, alam akan membalas. Mari jadikan ruang hijau ini sebagai awal komitmen kita,” pesannya.
Patung karya seniman asal Bandung tersebut kedepannya tidak akan berdiri sendiri. Rencana pengembangan kawasan sudah disiapkan untuk menjadikannya living monument. Wakil Ketua II DPRD Kaltim, Ananda Emira Moeis, menyampaikan bahwa akan ada program rutin “Soekarno Night” setiap Minggu malam, yang diisi dengan pertunjukan seni, budaya, dan diskusi. Kawasan ini juga akan dilengkapi dengan perpustakaan khusus yang berisi buku-buku tentang Bung Karno dan sejarah perjuangan bangsa.“Kami berharap tempat ini tidak sekadar untuk foto-foto, tetapi menjadi magnet bagi generasi muda.

“Kami berharap tempat ini tidak sekadar untuk foto-foto, tetapi menjadi magnet bagi generasi muda. Tempat mereka bisa belajar sejarah, berdebat tentang pemikiran kebangsaan, dan mengasah talenta seni. Inilah warisan nyata yang bisa kita berikan untuk meneruskan api perjuangan beliau,” ujar Ananda.
Dengan diresmikannya Patung Bung Karno dan RTH Sanga-Sanga, kawasan ini telah melakukan lompatan makna. Dari area eks industri, ia bertransformasi menjadi taman publik yang hijau, sekaligus ruang refleksi dan dialog tentang identitas bangsa.
Monumen tertinggi di luar Jawa ini kini bukan hanya soal ukuran, tetapi tentang seberapa tinggi cita-cita dan nilai perjuangan yang bisa diwariskan kepada generasi mendatang di Bumi Etam.(cc)









