Orang Utan Bayi Kembar Kaltim: Penyelamatan Langka di Habitat Rusak 2026

Kamis, 5 Maret 2026 - 04:44 WITA
Bagikan:
Foto: Bayi kembar yang terbilang langka disaat alam sudah rusak . (dok BKSDA Kaltim)

Kutai Timur, Sketsa.id – Di belantara Kalimantan Timur yang semakin sempit, sebuah cerita mengharukan terungkap pada 15 Februari 2026. Seorang induk orang utan betina ditemukan berjuang mati-matian membesarkan dua bayi kembarnya di habitat yang sudah rusak parah. Kehadiran mereka yang turun ke tanah—bukan di pepohonan tinggi seperti biasa—menjadi sinyal darurat bahwa rumah alam mereka tak lagi aman.

Laporan masyarakat tentang video viral induk dan bayi orang utan di areal konsesi terbuka langsung ditindaklanjuti. Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kaltim, bekerja sama dengan Conservation Action Network (CAN) dan pihak terkait, segera turun ke lapangan. Proses penyelamatan dilakukan dengan hati-hati, memastikan induk dan kedua bayinya tetap bersama, tanpa memisahkan ikatan keluarga mereka.

Paulinus Kristanto, Direktur dan Founder CAN, menceritakan bagaimana timnya awalnya ragu. “Kita dapat laporan, tapi sering kali orang utannya hilang. Hari pertama tak ketemu, tapi hari kedua, ternyata ada induk dengan bayinya—dan setelah diamati, bayinya dua! Ukuran tubuh sama, jadi kami yakin ini kembar,” katanya dalam wawancara.

Kelahiran kembar pada orang utan memang sangat langka, mungkin satu dari ratusan kasus. Tapi di balik kebahagiaan itu, ada kenyataan pahit: habitatnya tak mendukung. Analisis drone dan citra satelit menunjukkan hutan yang terfragmentasi, diapit perkebunan sawit dan tambang batu bara. “Ibunya harus ekstra makan, dari satu kilo jadi dua kilo sehari untuk susu anaknya. Kondisi hutan tak memungkinkan,” tambah Paulinus.

Akhirnya, keputusan diambil: translokasi. Butuh dua hari pemantauan intensif. “Biasanya sulit, mereka di pohon tinggi. Tapi ini seperti keajaiban—mereka turun sendiri, bahkan ke tanah. Seperti pasrah, ingin diselamatkan,” ujarnya. Evakuasi berjalan lancar; induk dibius, bayi menempel tenang tanpa rewel. “Biasanya bayi nangis, tapi ini pasrah. Keajaiban,” lanjutnya.

Induk dan bayi kemudian dipindah ke kawasan hutan lindung (HCV) di perusahaan terdekat, masih di satu lanskap Bengalon, Kutai Timur. Pemeriksaan fisik menunjukkan mereka sehat, tapi masa depan bergantung pada daya dukung habitat.

M Ari Wibawanto, Kepala BKSDA Kaltim, menjelaskan risiko habitat terfragmentasi. “Lokasi sempit, tak tersambung hutan lain. Bertahan hidup diragukan,” katanya. Rescue dimulai pagi, setelah pantau sarang malam sebelumnya. “Keselamatan satwa prioritas. Kami lepas di HCV terdekat, setengah jam perjalanan, yang layak secara fisik, biologi, dan sosial.”

Paulinus analogikan dengan manusia: “Bayangkan ibu punya anak kembar, tapi tak ada rumah, tak ada makanan. Itu menyentuh hati.” Kasus ini menyoroti perjuangan orang utan di hutan terpotong-potong, indikasi butuh pertolongan segera.

Kisah ini bukan hanya tentang penyelamatan, tapi panggilan untuk lindungi habitat. Di tengah pembangunan, semoga lebih banyak cerita bahagia untuk si ‘manusia hutan‘ ini. (*)

Bagikan:

Seven Decades of Iran-US Conflict: From the 1953 CIA Coup to the 2026 Nuclear Ultimatum