Orca di Maratua: Fenomena Migrasi Langka di Perairan Kaltim

Kamis, 5 Maret 2026 - 05:16 WITA
Bagikan:
Foto: sejumlah orca terlihat di perairan kepulauan Maratua, Kaltim.. (ist)

Maratua, Sketsa.id – Di perairan biru Kepulauan Maratua, Kalimantan Timur, sebuah pemandangan tak terlupakan baru saja menyapa para penyelam dan warga setempat. Sekelompok paus orca, dengan sirip punggung hitam menjulang yang ikonik, terekam berenang santai di permukaan laut. Video amatir yang beredar di media sosial sejak beberapa pekan lalu ini langsung menjadi buah bibir, apalagi mengingat orca lebih sering dikaitkan dengan samudra dingin kutub, bukan wilayah tropis seperti sini.

Bagi masyarakat awam, kemunculan ini terasa seperti kejutan besar—sebuah fenomena langka yang memicu rasa penasaran. Tapi bagi para ahli, ini justru bagian dari pola alam yang sudah lama ada, meski jarang terekspos. Muchlis Efendi, peneliti kelautan dari Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Mulawarman, menjelaskan bahwa orca adalah mamalia pengembara yang sedang dalam perjalanan migrasi panjang.

“Mereka migratory, pengembara laut yang tak kenal lelah,” kata Muchlis saat dihubungi, Senin (2/3/2026). Ia menggambarkan rute mereka yang melintasi Laut Sulawesi, menyusuri Selat Makassar, hingga ke timur Indonesia dan bahkan Australia. Maratua, dengan keindahan bawah lautnya yang terkenal, hanyalah salah satu titik persinggahan di jalur itu.

Menariknya, ini bukan pertama kalinya orca “mampir” ke Kaltim. Muchlis menceritakan pengalaman pribadinya bertemu mereka di Lamin Guntur, dekat Biduk-Biduk, sekitar 2017 atau 2018. “Dulu laporan seperti ini minim, tapi sekarang dengan banyaknya dive operator di Maratua, dokumentasi jadi lebih mudah,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa keterbatasan riset di daerah membuat data masih sporadis, tapi ini bisa jadi peluang untuk studi lebih dalam—mungkin bekerja sama dengan rekan internasional.

Di balik keindahannya, kemunculan orca di air hangat juga punya sisi lain. Suhu tropis mempercepat metabolisme mereka, membuat sang predator puncak ini lebih agresif dalam berburu. “Apa saja yang lewat di depan mata bisa jadi santapan ikan, penyu, bahkan hiu,” tambah Muchlis. Ia juga ingat pertemuannya dengan paus sirip (finback whale) di Bontang tahun 2024, yang datang mencari ikan kecil.

Fenomena ini menegaskan peran penting perairan Kaltim sebagai koridor migrasi. Arus Lintas Indonesia (Arlindo) dan kelimpahan makanan menjadi magnet bagi raksasa laut seperti orca. “Minggu depan, mereka mungkin sudah muncul di Selayar, mengikuti arus,” prediksi Muchlis.

Bagi kita di Samarinda dan sekitarnya, ini pengingat bahwa laut Indonesia bukan hanya harta karun biodiversitas, tapi juga jalan raya alam bagi spesies global. Sayangnya, minimnya data ilmiah berarti kita masih butuh lebih banyak penelitian untuk memahami pola ini sepenuhnya. Siapa tahu, momen langka seperti ini bisa jadi pendorong untuk melindungi lautan kita lebih baik lagi. (*)

Bagikan:

Seven Decades of Iran-US Conflict: From the 1953 CIA Coup to the 2026 Nuclear Ultimatum