PARIS, Sketsa.id – Dunia politik Prancis kembali diguncang kejutan. Sebastien Lecornu mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Perdana Menteri Prancis, Senin (6/10/2025), padahal baru 26 hari memimpin negara tersebut. Pengunduran diri yang begitu cepat ini mencatatkan rekor baru dalam sejarah politik Prancis modern.
Istana Elysee secara resmi mengumumkan pengunduran diri Lecornu usai pertemuan intens selama satu jam dengan Presiden Emmanuel Macron. Langkah mengejutkan ini terjadi hanya sehari setelah kabinet barunya diumumkan kepada publik.
5 Pemicu Mundurnya Perdana Menteri Termuda Prancis
1. Komposisi Kabinet yang Menuai Badai Kritik
Partai-partai di parlemen Majelis Nasional serentak mengkritik keras komposisi kabinet Lecornu. Alih-alih menghadirkan wajah baru, kabinet tersebut justru didominasi nama-nama lama dari pemerintahan Bayrou sebelumnya.
“Komposisi yang tidak mencerminkan perubahan sama sekali,” ujar salah satu anggota parlemen dari partai oposisi, seperti dikutip dari BBC.
Ancaman penolakan dari Majelis Nasional menggantung di depan mata, memaksa Lecornu mengambil langkah pengunduran diri sebagai jalan keluar.
2. Beban Defisit Anggaran 5,8% yang Terlalu Berat
Lecornu mewarisi masalah defisit anggaran yang mencapai 5,8% pada 2024—angka yang jauh melampaui batas 3% yang ditetapkan Uni Eropa. Tantangan untuk menutup lubang defisit ini menjadi beban pertama yang tak terpikulkan.
Para investor dan Komisi Eropa di Brussel menanti-nanti rencana konkret Lecornu untuk mengatasi masalah anggaran ini. Jadwal pidato di depan parlemen yang rencananya digelar Selasa menjadi momen penentuan yang akhirnya tidak pernah terjadi.
3. Rasio Utang 113% PDB yang Mencekik
Kondisi keuangan Prancis semakin parah dengan rasio utang yang mencapai 113% dari Produk Domestik Bruto (PDB). Angka ini hampir dua kali lipat dari batas maksimal 60% yang diwajibkan Uni Eropa.
“Utang yang membengkak ini membatasi ruang gerak pemerintah dalam mengambil kebijakan fiskal,” jelas seorang analis ekonomi Prancis yang tidak ingin disebutkan namanya.
4. Tekanan Pasar Keuangan yang Tak Terkendali
Pengumuman kabinet baru Lecornu justru menuai reaksi negatif dari pasar keuangan. Indeks saham CAC 40 anjlok 1,9%, sementara euro melemah 0,7% terhadap dolar.
Imbal hasil obligasi pemerintah Prancis untuk jangka waktu 30 tahun meroket ke level tertinggi dalam satu bulan di 4,441%. Situasi ini mencerminkan ketidakpercayaan investor terhadap stabilitas politik Prancis.
5. Parlemen Terpecah dan Tuntutan Pemilu Ulang
Sejak pemilu Juli 2024, parlemen Prancis terbelah dalam beberapa kubu tanpa mayoritas jelas. Kondisi ini menyulitkan perdana menteri manapun untuk mendapatkan dukungan cukup dalam meloloskan kebijakan penting.
“Macron harus memilih: pembubaran parlemen atau pengunduran diri,” tegas Sébastien Chenu dari Partai Nasional sayap kanan.
Beberapa partai bahkan menyerukan Presiden Macron untuk mengundurkan diri, meski secara konsisten dia menyatakan akan tetap bertahan hingga masa jabatannya berakhir pada 2027.
Dampak dan Implikasi ke Depan
Lecornu menjadi perdana menteri kelima Prancis dalam kurun waktu kurang dari dua tahun—bukti nyata ketidakstabilan politik yang melanda negara menara Eiffel ini. Pengunduran dirinya menjerumuskan Prancis ke dalam krisis politik baru di tengat kondisi keuangan yang sudah rapuh.
Pencarian perdana menteri baru kini menjadi tantangan berat bagi Macron. Di satu sisi, calon harus mampu menyatukan parlemen yang terpecah, sementara di sisi lain dituntut segera mengatasi masalah defisit anggaran dan utang yang kian mencekik.
Mata dunia kini tertuju pada Prancis, menanti langkah berikutnya dari Macron dalam menyelamatkan negara dari jurang krisis politik dan keuangan yang kian dalam. (*)









