Samarinda, Sketsa.id – Pagi itu, Kampung Ketupat tak seperti biasanya. Bukan karena ramai pengunjung, tapi justru karena puluhan orang berseragam datang membawa sapu lidi, pengki, dan gerobak sampah.
Personel Polsek Samarinda Seberang turun. Personel Kodim 0901/Samarinda ikut. Aparatur Kelurahan Mesjid juga hadir. Tapi bukan untuk razia atau patroli.
Mereka memungut sampah. Satu per satu, mereka menyusuri area wisata. Selokan yang mampet dibersihkan. Sampah plastik yang menyangkut di pinggir jalan dipungut. Fasilitas umum yang mulai tak terawat dibereskan.
baca juga : Polresta dan Wakil Walikota Samarinda Beri Peringatan Keras: Jangan Coba-Coba Timbun Bahan Pokok!
Di sela kegiatan, Kapolsek Samarinda Seberang AKP A. Baihaki tak cuma memerintah dari jauh. Ia ikut terjun. Tangannya tak kalah kotor dibanding anak buahnya.
“Kampung Ketupat ini aset berharga. Kalau lingkungannya bersih dan nyaman, wisatawan akan betah. Kalau wisatawan betah, ekonomi warga berputar,” katanya.
Logika yang sederhana. Tapi kadang logika sederhana inilah yang kerap dilupakan: bahwa menjaga keamanan tak selalu soal menangkap maling. Kadang, kehadiran polisi paling terasa saat mereka ikut merawat ruang publik yang menjadi kebanggaan bersama.
Danramil 0901-03 Samarinda Seberang, Mayor Inf Surono, menyebut ini wujud nyata kemanunggalan TNI-Polri bersama rakyat. Bukan di atas kertas, bukan di ruang rapat. Tapi di lapangan, dengan tangan yang kotor dan baju yang basah oleh keringat.
“Ini baru namanya bersinergi,” ujarnya sambil tersenyum.
Tak ada upacara panjang. Tak ada sambutan berapi-api. Begitu tiba, mereka langsung bergerak. Warga yang melihat ikut terjun. Gotong royong, sebagaimana mestinya.
Menjelang siang, Kampung Ketupat tampil beda. Saluran air tak lagi tersumbat. Sampah-sampah yang mengotori pemandangan raib. Fasilitas umum tertata rapi.
Polsek Samarinda Seberang menyebut ini bukan kegiatan sekali lalu. Akan ada lagi. Sebab merawat ikon wisata tak cukup sekali. Apalagi menjelang momen-momen ramai pengunjung.
Kapolsek mengajak warga tak hanya jadi penonton.
“Ini bukan pekerjaan yang selesai dalam sehari. Kami akan terus hadir. Tapi tanpa dukungan warga, semua tak akan bertahan lama,” kata AKP Baihaki.
Di penghujung kegiatan, ia melempar pesan yang tak perlu dibungkus jargon: polisi tak hanya bisa menindak. Polisi juga bisa merawat. (cc)









