Samarinda, Sketsa.id – Hilal penentu awal bulan Syawal 1447 Hijriah tidak terlihat di Kota Samarinda. Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kota Samarinda memastikan penetapan Hari Raya Idul Fitri masih menunggu hasil sidang isbat yang digelar Kementerian Agama RI.
Kepala Kemenag Kota Samarinda, Nasrun, menjelaskan hasil pemantauan hilal di wilayah setempat belum memenuhi kriteria visibilitas yang ditetapkan. Berdasarkan data dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Samarinda, posisi hilal di Samarinda berada pada ketinggian 2,83 derajat dengan elongasi 5,20 derajat.
“Data hilal yang kami terima menunjukkan ketinggian hilal di Samarinda sebesar 2,83 derajat dan elongasi 5,20 derajat,” ujar Nasrun, Kamis (19/3/2026).
Kriteria yang digunakan oleh negara-negara anggota Menteri Agama Brunei, Indonesia, Malaysia, dan Singapura (MABIMS) menetapkan batas minimal ketinggian hilal 3 derajat dan elongasi 6,4 derajat agar dapat dirukyat. Dengan hasil tersebut, hilal di Samarinda tidak memenuhi syarat untuk dapat terlihat.
“Untuk Samarinda, karena tidak bisa melihat hilal, maka kita kembalikan kepada pengambil kebijakan, yaitu Menteri Agama,” ucapnya.
Nasrun memaparkan rangkaian akhir Ramadhan tahun ini telah dipetakan. Kamis, 19 Maret 2026 ditetapkan sebagai 29 Ramadhan atau hari observasi hilal. Jumat, 20 Maret 2026 berpotensi menjadi 30 Ramadhan atau hari istikmal, dan Sabtu, 21 Maret 2026 diproyeksikan sebagai 1 Syawal 1447 Hijriah. Namun, tanggal tersebut masih bersifat proyeksi dan menunggu keputusan resmi pemerintah pusat.
“Apakah 1 Syawal jatuh pada Sabtu, 21 Maret 2026, itu kita menunggu keputusan Menteri Agama melalui sidang isbat,” ujarnya.
Secara nasional, peluang terlihatnya hilal juga sangat terbatas. Berdasarkan paparan BMKG, hanya wilayah paling barat Indonesia seperti Sabang yang memiliki kemungkinan hilal terlihat, dengan ketinggian sekitar 3,13 derajat. Namun dari sisi elongasi, angka tersebut juga belum sepenuhnya memenuhi kriteria yang dipersyaratkan.
Di sisi lain, muncul pendekatan berbeda dalam penentuan kalender Hijriah, yakni konsep Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) yang menggunakan data global sebagai acuan. Berdasarkan data luar negeri, tinggi hilal dilaporkan mencapai 5 derajat dengan elongasi 8 derajat. Angka ini dinilai telah memenuhi kriteria dalam pendekatan global, sehingga berpotensi membuat sebagian kelompok merayakan Idul Fitri lebih awal.
Secara metodologis, terdapat dua pendekatan utama, yakni rukyat lokal dengan kriteria MABIMS dan rukyat global. Perbedaan keduanya terletak pada cakupan wilayah serta standar kriteria yang digunakan. Meski berbeda dalam menentukan awal, kedua pendekatan tersebut menghasilkan durasi Ramadhan yang sama, yakni 30 hari.
Nasrun mengimbau masyarakat untuk menunggu pengumuman resmi pemerintah dan menjaga kondusivitas. Ia juga menekankan pentingnya toleransi apabila terjadi perbedaan dalam penetapan hari raya.
“Jika ada masyarakat yang merayakan lebih dulu, kita berikan ruang. Yang penting saling menghargai,” kata dia.
Sementara itu, Prakirawan BMKG Samarinda, Sutrisno, menjelaskan umur bulan di Samarinda saat matahari terbenam relatif singkat, sehingga menyulitkan proses pengamatan.
“Di Samarinda, saat matahari terbenam, umur bulan hanya sekitar 10 menit 47 detik. Waktu yang sangat singkat ini membuat hilal sangat sulit untuk diamati,” ujar Sutrisno.
Dengan kondisi tersebut, masyarakat diminta tetap menjaga persatuan dan menghormati perbedaan dalam penentuan Hari Raya Idul Fitri. (cc)










