Scream 7: Kembalinya Ghostface yang Lebih Brutal, Akhir dari Teror Sidney Prescott?

Kamis, 26 Februari 2026 - 06:05 WITA
Bagikan:
,
Foto: salah satu cuplikan dalam film scream 7 (ist)

Film, Sketsa.id – Bayangkan ini: Telepon berdering di malam yang tenang, suara misterius di ujung sana bertanya, “Apa film horor favoritmu?” Bagi penggemar slasher, frasa itu langsung membangkitkan kenangan akan Scream, franchise ikonik yang telah menghantui bioskop selama hampir 30 tahun.

Kini, Scream 7 siap menyambut kita dengan janji teror baru yang lebih personal dan intens. Sebagai sekuel ketujuh, film ini bukan sekadar nostalgia, tapi juga evolusi yang bisa jadi puncak dari saga Ghostface. Apakah kamu siap menghadapi ketakutan lama yang bertemu dengan generasi baru? Mari kita ulas tanpa spoiler, mengapa film ini layak jadi prioritas tontonanmu akhir pekan ini.

Plot yang Menghubungkan Masa Lalu dan Masa Depan

Scream 7 kembali ke akarnya, dengan fokus pada Sidney Prescott (diperankan oleh Neve Campbell), pahlawan wanita yang telah selamat dari enam pembunuhan berantai sebelumnya. Kali ini, teror Ghostface menyerang lebih dekat ke rumah: putrinya menjadi target utama. Cerita berlatar di kota kecil yang tenang di mana Sidney mencoba membangun kehidupan baru, tapi masa lalu yang kelam kembali menghantui. Sutradara Kevin Williamson, yang juga penulis skenario asli Scream (1996), membawa sentuhan meta-humor khas franchise ini, sambil menambahkan lapisan emosional tentang warisan keluarga dan trauma turun-temurun.

Tanpa membocorkan twist, film ini menjanjikan chase scene yang lebih brutal, teka-teki pembunuh yang rumit, dan referensi ke film horor klasik yang akan membuatmu tersenyum di tengah ketegangan. Durasi 114 menit terasa pas untuk membangun suspense tanpa terburu-buru, dan budget $45 juta memastikan efek visual yang lebih polished dibanding pendahulunya. Jika kamu fans Scream VI (2023) yang penuh aksi kota besar, ini seperti kembali ke rumah – tapi rumah yang penuh jebakan mematikan.

Cast yang Menggabungkan Legenda dan Wajah Baru

Neve Campbell kembali sebagai Sidney, membawa kedalaman emosi yang membuat karakternya tetap relatable setelah puluhan tahun. Dia didampingi oleh Courteney Cox sebagai Gale Weathers yang sarkastis, David Arquette sebagai Dewey Riley (yang absen di film keenam), dan Matthew Lillard yang ikonik sebagai Stu Macher – meski karakternya sudah mati di film pertama, kehadirannya menambah misteri. Generasi baru dipimpin oleh Isabel May sebagai putri Sidney, yang membawa energi segar dan rentan, disertai Jasmin Savoy Brown dan Mason Gooding dari film-film sebelumnya. Tambahan seperti Anna Camp, Mckenna Grace, dan Joel McHale menjanjikan ensemble yang beragam, dengan suara Ghostface tetap dipegang oleh Roger L. Jackson yang legendaris.

Reaksi awal dari screening midnight menunjukkan campuran: Beberapa fans memuji reveal pembunuh yang “tak terduga,” sementara yang lain mengkritik ketergantungan pada elemen AI dalam produksi. Tapi secara keseluruhan, performa cast menjadi highlight, terutama chemistry antara Campbell dan May yang membuat tema keluarga terasa autentik.

Mengapa Harus Nonton? Rekomendasi untuk Penggemar Horor

Di era remake dan reboot, Scream 7 menonjol karena tetap setia pada formula asli Wes Craven sambil beradaptasi dengan isu kontemporer seperti privasi digital dan warisan trauma. Ini bukan hanya slasher biasa; ini adalah komentar cerdas tentang genre horor itu sendiri. Jika kamu suka film seperti Halloween Ends atau Fear Street, ini akan memuaskan hasratmu akan jumpscare dan plot twist.

film ini punya potensi viral: Trailer-nya sudah ditonton jutaan kali, dan diskusi di X (sebelumnya Twitter) ramai dengan teori siapa Ghostface kali ini. Meski ada kontroversi seputar produksi (seperti pemecatan Melissa Barrera dari film sebelumnya), ini justru menambah buzz. Rating R menjamin gore yang intens, jadi cocok untuk malam horor bersama teman – tapi jangan lupa matikan ponselmu!.

Scream 7 adalah rekomendasi utama bagi siapa saja yang mencari adrenalin tinggi di bioskop. Apakah ini akhir saga Sidney? Hanya waktu (dan box office) yang akan menjawab. Tapi satu hal pasti: Film ini akan membuatmu berteriak, tertawa, dan berpikir ulang tentang menelepon dan menerima telepon dari orang asing.

Bagikan:

“Cinta” di Timeline: Strategi Interaksi Kreatif Toshiba TV dan Amanda Brownies yang Bikin X Ramai Kembali