Saamrinda, Sketsa.id – Hampir dua pekan beroperasi, aktivitas jual beli di Pasar Pagi Samarinda masih jauh dari kata ramai. Penyebabnya, pasar yang terletak di jantung kota itu belum juga diresmikan secara resmi oleh pemerintah setempat. Akibatnya, informasi mengenai keberadaan pasar belum tersebar luas di kalangan masyarakat.
Sahril, pedagang ikan yang telah membuka lapak, membenarkan kondisi sepi tersebut. Menurutnya, baru segelintir pedagang yang mulai berjualan, mayoritas menjual ikan, ayam, daging, dan sayur-mayur. Itu pun belum lengkap layaknya pasar tradisional pada umumnya.
“Masih sepi karena belum ada peresmian. Masyarakat juga belum tahu kalau pasar pagi ini sudah buka,” ujar Sahril Selasa (3/2/2026).
baca juga : Pemprov Kaltim Kencangkan Seleksi Gratispol 2026, Kampus Jadi Ujung Tombak Sosialisasi
Ia menilai peresmian merupakan sinyal penting bagi publik. Tanpa acara formal dan sosialisasi dari pemangku kebijakan, pasar akan kesulitan menarik minat pembeli. “Kalau sudah diresmikan dan semua pedagang kompak buka, pasti ramai. Sekarang kan masih satu-satu,” tambahnya.
Di balik sepinya pembeli, beban operasional justru terasa berat. Sahril mengeluhkan akumulasi biaya yang harus ditanggung pedagang, seperti sewa meja, listrik, air, dan parkir. Totalnya bisa mencapai Rp700 ribu hingga Rp800 ribu per bulan.
“Kalau kondisi normal dan ramai, sehari bisa dapat Rp500 ribu. Tapi sekarang, penghasilan belum tentu segitu. Kadang malah sepi,” keluhnya.
Fasilitas pasar juga menjadi perhatian. Sahril menyoroti desain tangga yang dinilai terlalu tinggi, menyulitkan pembeli lansia. “Untuk orang muda mungkin biasa saja, tapi untuk orang tua jadi kendala. Harapannya bisa dibenahi agar lebih nyaman,” pintanya.
Ia berharap pemerintah segera menggelar peresmian dan menata ulang fasilitas pasar. “Keinginan kami pasar ini maju, bukan malah menambah beban. Kalau tidak ada pembeli, bagaimana pedagang bisa hidup?” tutup Sahril. (*)









