Serangan Gabungan AS-Israel ke Iran: Target Pemimpin Tertinggi hingga Fasilitas Nuklir

Sabtu, 28 Februari 2026 - 14:47 WITA
Bagikan:
Foto: kondisi setelah serangan di Iran (ist)

Washington/Tel Aviv/Teheran, Sketsa.id – Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan militer gabungan terhadap Iran pada Sabtu pagi waktu setempat, menargetkan sejumlah fasilitas militer dan program nuklir Iran. Operasi ini memicu serangan balasan dari Teheran dan meningkatkan ketegangan di kawasan Timur Tengah.

Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa operasi ini bertujuan untuk “menghancurkan ancaman keamanan nasional” dari rezim Iran. Dalam pernyataannya, Trump juga menyampaikan pesan langsung kepada rakyat Iran: “Saat kami selesai, rebutlah pemerintahan kalian.”

Kronologi Serangan

Serangan dimulai sekitar pukul 06.00 GMT atau 09.30 waktu Teheran. Ledakan dilaporkan terjadi di sejumlah kota, termasuk Teheran, Isfahan, Qom, Karaj, dan Kermanshah. Militer Israel mengklaim serangan ini menargetkan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei, Presiden Masoud Pezeshkian, dan kepala angkatan bersenjata Iran, meskipun status para pejabat tersebut belum dapat dikonfirmasi secara independen.

AS berfokus pada penghancuran program rudal balistik dan nuklir Iran. Pentagon menamai operasi ini “Epic Fury,” sementara militer Israel menyebutnya “Roaring Lion.”

Menurut laporan intelijen, persiapan serangan telah direncanakan selama berbulan-bulan dan dipicu oleh kegagalan negosiasi tidak langsung melalui Oman terkait program nuklir Iran. Ini merupakan eskalasi dari konflik sebelumnya, termasuk perang udara selama 12 hari pada Juni 2025 yang juga menargetkan fasilitas nuklir Iran.

Korban sipil awal dilaporkan mencakup dua siswa di Teheran dan 51 warga sipil lainnya akibat serangan udara Israel. Iran membalas dengan menyerang basis militer AS di Bahrain, Qatar, dan Uni Emirat Arab, serta wilayah Israel seperti Haifa. Korps Pengawal Revolusi Islam (IRGC) Iran mengonfirmasi pembalasan mereka dan menyebutnya sebagai “pukulan telak” terhadap kepentingan AS dan Israel di kawasan.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyatakan serangan ini bertujuan untuk menghilangkan “ancaman eksistensial” dari Iran. Namun para ahli dari Chatham House memperingatkan bahwa serangan preventif semacam ini berpotensi melanggar hukum internasional dan memicu perang regional yang lebih luas, termasuk ancaman penutupan Selat Hormuz yang dapat mengganggu pasokan minyak global.

Kaitan dengan Perayaan Purim dan Teori Konspirasi

Serangan ini terjadi kurang dari sepekan sebelum perayaan Purim, festival Yahudi yang memperingati penyelamatan orang Yahudi dari pembantaian di Kekaisaran Persia kuno, yang wilayahnya mencakup Iran modern. Peringatan Purim tahun ini akan jatuh pada 6-7 Maret 2026.

Kisah Purim bersumber dari Kitab Ester dalam tradisi Yahudi, yang menceritakan bagaimana orang Yahudi di Kekaisaran Persia selamat dari rencana pemusnahan yang digagas oleh Haman, seorang pejabat tinggi Persia. Dalam narasi tersebut, orang Yahudi kemudian melakukan pembalasan dengan membunuh sekitar 75.000 musuh mereka.

Di Iran modern, narasi ini telah dibalik oleh beberapa kalangan menjadi apa yang disebut sebagai “Holocaust Iran” – sebuah teori konspirasi yang mengklaim bahwa orang Yahudi melakukan genosida terhadap puluhan ribu orang Persia. Beberapa media dan situs di Iran telah mempromosikan narasi ini sebagai propaganda anti-Israel.

Para analis mencatat bahwa baik pemimpin Israel maupun Iran sama-sama menggunakan narasi historis untuk membenarkan permusuhan mereka. Netanyahu dalam berbagai pidatonya sering membandingkan Iran modern dengan Haman, sementara para pemimpin Iran menggunakan narasi “Holocaust Iran” untuk membangkitkan sentimen anti-Israel.

Pemerintah AS dan Israel membantah adanya kaitan antara serangan militer ini dengan perayaan Purim. Namun teori konspirasi terkait hal ini tetap menyebar luas di media sosial dan forum-forum diskusi online.

Reaksi Global dan Dampak

Reaksi internasional terhadap serangan ini terbelah. Sekutu AS seperti Israel dan sejumlah negara Teluk menyatakan dukungan, sementara Rusia dan China mengecam sebagai “agresi ilegal.” Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres menyerukan gencatan senjata segera dan memperingatkan risiko eskalasi yang dapat mengarah pada konflik nuklir.

Di dalam negeri AS, Partai Demokrat mengkritik operasi ini sebagai “petualangan berbahaya.” Sementara di Israel, sekitar 70.000 personel cadangan dipanggil untuk memperkuat pertahanan.

Dampak ekonomi langsung terasa dengan lonjakan harga minyak global hingga 15 persen akibat kekhawatiran gangguan pasokan dari Selat Hormuz. Komunitas Yahudi Iran, yang kini diperkirakan berjumlah 8.000 hingga 15.000 orang – turun drastis dari 90.000 pada tahun 1979 – menghadapi ketidakpastian baru di tengah meningkatnya ketegangan.

Serangan ini tidak hanya merupakan konflik militer, tetapi juga bentrokan narasi sejarah yang telah lama membentuk hubungan Iran-Israel. Dengan kedua belah pihak saling mengklaim pembenaran historis, jalan menuju de-eskalasi tampak semakin sulit. (cc)

Bagikan:

“Cinta” di Timeline: Strategi Interaksi Kreatif Toshiba TV dan Amanda Brownies yang Bikin X Ramai Kembali