Samarinda, Sketsa.id – Dari geladak Kapal Pesut Harmony yang perlahan menyusuri Sungai Mahakam, pemandangan hijau tepian dan kehidupan riil masyarakat tepian sungai terbentang jelas. Di dalam kapal, diskusi hangat tentang masa depan pariwisata Kalimantan Timur justru tengah mengemuka. Ini bukan sekadar acara seremonial, melainkan bagian taktis dari Program JOSPOL Pemprov Kaltim yang menyasar penguatan ekonomi desa melalui sektor pariwisata.
I Wayan Lanang Nala, akademisi dari Politeknik Negeri Samarinda (Polnes) yang hadir sebagai narasumber, menekankan bahwa pengembangan desa wisata harus meninggalkan paradigma lama. “Jangan hanya menjadikan pariwisata sebagai alat menghasilkan uang semata. Tapi bagaimana masyarakat desa bisa mandiri, menemukan keunikan dan kekuatan komparatif desanya,” ujarnya, di tengah gemuruh mesin kapal.

Kaltim sendiri, menurut data Dinas Pariwisata, memiliki 105 desa wisata yang tersebar di 10 kabupaten/kota. Beberapa seperti Desa Wisata Pela, Bontang Kuala, dan Pondong Derawan sudah masuk kategori maju. Namun, tantangannya berlapis: mulai dari penguatan SDM, infrastruktur, hingga promosi digital.
“Tantangan kita tidak sama antar desa. Ada yang butuh penguatan SDM, ada yang infrastrukturnya, ada pula yang di promosi digital. Ini yang coba kita kolaborasikan dengan semua pihak, termasuk swasta dan perbankan, melalui skema-skema dalam Program JOSPOL,” papar Ririn Sari Dewi, Kepala Dinas Pariwisata Kaltim, dalam kesempatan yang sama.
Diskusi yang mengusung tema “Desa Wisata sebagai Episentrum Generasi Emas” ini secara gamblang menunjukkan pergeseran strategi. Pariwisata tidak lagi dilihat sebagai sekadar penarik devisa, tetapi sebagai bagian dari ekonomi kreatif yang berkelanjutan dan inklusif. Wayan menambahkan, setiap desa wisata harus membangun narasi kuat. Seperti Desa Malahing di Kota Bontang yang sukses dengan budidaya rumput laut, atau Desa Pela di Kutai Kartanegara yang menjadi habitat penting Pesut Mahakam.

“Ini soal membangun cerita. Kenapa orang harus datang? Apa yang hanya bisa mereka lihat dan rasakan di sana? Itu kekuatannya,” tegas Wayan.
Program diskusi keliling ini menjadi simbol pendekatan baru: turun langsung, melihat potensi, dan merancang strategi dari tengah lapangan—atau dalam hal ini, dari tengah sungai. Program JOSPOL hadir sebagai payung besar yang menyinergikan dukungan pembiayaan, pendampingan, dan pemasaran.
Harapannya jelas: dari 105 desa, setidaknya 5 desa per tahun dapat naik kelas dari kategori berkembang menjadi maju. Dengan begitu, geliat ekonomi tidak hanya berpusat di kota, tetapi merata hingga ke desa-desa tepian Mahakam, menjadikan pariwisata sebagai nadi ekonomi baru pasca-era industri ekstraktif. (Cc/Adv/Diskominfo Kaltim)









