Samarinda, Sketsa.id – Komisi IV DPRD Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke gedung baru Rumah Sakit Abdul Wahab Sjahranie (AWS) Pandurata, Samarinda. Gedung yang dibangun dengan biaya hampir setengah triliun rupiah ini diproyeksikan menjadi rumah sakit rujukan paripurna tertinggi di Kaltim.
Namun, dalam sidak yang dipimpin Ketua Komisi IV, Baba, dan dihadiri jajaran pimpinan rumah sakit serta perwakilan Dinas Kesehatan dan PUPR, sejumlah kendala teknis dan operasional ditemukan. Hal ini perlu segera dibenahi dan dikaji ulang agar rumah sakit dapat beroperasi dengan sempurna dan manfaatnya segera dirasakan warga Kaltim.
Target Juni, Tapi Ada PR
Dalam wawancara, Ketua Komisi IV, Baba menyampaikan target operasional gedung baru ini adalah pada Juni 2024. Sebanyak 540 tempat tidur dari gedung lama yang kerap banjir rencananya akan dipindahkan ke gedung baru Pandurata.
“Kesiapannya kalau dari gedung sih ya hampir selesai. Mudah-mudahan dalam pemeliharaannya bisa selesai,” ujar Baba, seperti dikutip Sketsa.id.

Meski demikian, terdapat sejumlah catatan perbaikan yang harus diselesaikan dalam masa pemeliharaan. Salah satu yang menjadi sorotan adalah masalah aksesibilitas, terutama lebar pintu. Untuk memudahkan manuver tandu dan alat transportasi pasien, lebar pintu perlu disesuaikan dari 120 cm menjadi 160 cm.
Dalam sidaknya, Wakil Ketua Komisi IV, Dr Andi Satya Adi yang juga seorang dokter atau perwakilan rumah sakit, mengungkapkan kekhawatiran akan akses pasien dalam situasi darurat.
“Kira-kira… kalau dipikirkan aksesnya seperti ini kan pasien, misalnya kita dari pasien harus operasi didorong dari sana mau naik ke atas. Ini kalau yang dorong satu orang itu susah. Kalau sehari 10 kali bolak-balik 10 pasien, nanti kerja di awalnya harus dipikirkan ini,” ujarnya.
Tanggung Jawab Pasca Pemeliharaan dan Kesiapan Alat
Diskusi juga mengerucut pada tanggung jawab jika ditemukan peralatan yang tidak berfungsi setelah masa pemeliharaan berakhir. Salah seorang pembicara (Pembicara 1) menekankan pentingnya kejelasan hal ini agar tidak terjadi saling lempar tanggung jawab.
“Semasa pemeliharaan habis masanya, baru masuk gedung, baru masuknya peralatan, baru mulai operasional. Kalau itu tidak sesuai dengan keinginan, masih tanggung jawab [kontraktor/pemelihara] ya?” tanyanya.
Di sisi lain, Plt. Direktur Utama RS AWS, dr. Nana, yang hadir setelah sesi awal, menyatakan bahwa koordinasi dengan PU sebagai penanggung jawab pembangunan telah dilakukan. Ia memastikan berbagai temuan, termasuk masalah plafon dan tiang, telah didokumentasikan dan akan menjadi bagian dari perbaikan dalam masa pemeliharaan 6 bulan.
“Sudah kami diskusikan bersama termasuk kekurangan-kekurangannya,” tegasnya.
Anggaran Peralatan Masih Kekurangan Besar
Tantangan lain yang mengemuka adalah kekurangan anggaran untuk pengadaan peralatan medis yang sesuai standar rujukan paripurna. Ketua Komisi IV menyebut kekurangannya mencapai sekitar Rp 200 miliar.
Dr. Nana menjelaskan, anggaran sebesar itu diperlukan untuk memenuhi 24 layanan paripurna sesuai kebijakan baru Kementerian Kesehatan yang berbasis kompetensi, bukan lagi jenjang. Saat ini, anggaran yang tersedia di Dinas Kesehatan untuk kebutuhan awal Pandurata adalah Rp 150 miliar.
“Untuk 24 layanan paripurna itu kami butuh sekitar 200-an miliar… Sisanya kami berharap dalam 2-3 tahun ke depan bisa terpenuhi,” jelas dr. Nana.
Komitmen untuk Pelayanan Optimal
Di tengah pembahasan teknis, dr. Nana juga menegaskan komitmen rumah sakit untuk tetap melayani masyarakat, termasuk terkait isu peserta PBI BPJS yang non-aktif. Ia menyatakan rumah sakit tidak akan menolak pasien, tetapi membutuhkan regulasi yang jelas dari pemerintah agar klaim layanan tidak terkendala.
Sidak ini menegaskan bahwa meski pembangunan fisik gedung megah hampir rampung, langkah menuju operasional penuh masih membutuhkan penyempurnaan, koordinasi intensif, dan komitmen pendanaan yang berkelanjutan. Komisi IV DPRD Kaltim akan terus mengawal proses ini hingga rumah sakit rujukan paripurna tersebut benar-benar siap memberikan pelayanan terbaik bagi masyarakat Kaltim. (cc)









