Kutai Kartanegara, Sketsa.id – Peningkatan produktivitas masyarakat menjadi strategi efektif untuk menekan angka kekerasan terhadap perempuan dan anak di Kutai Kartanegara. Hal ini ditegaskan Sekretaris Daerah Kukar Sunggono Kasnu dalam Sosialisasi PPATBM di Hotel Harris Samarinda..
“Kalau masyarakat sibuk berproduksi, pasti tidak ada waktu untuk memikirkan hal-hal buruk,” ujar Sunggono. Ia menjelaskan bahwa kondisi menganggur dan waktu luang yang tidak terkelola sering menjadi pemicu perilaku negatif, termasuk kekerasan dalam keluarga.
Pandangan ini diperkuat hasil konsultasi dengan Universitas Islam Indonesia (UII). “Saat berkonsultasi ke UII, kami menemukan salah satu faktor dominan kekerasan adalah saat orang menganggur dan memiliki waktu luang tidak terkelola,” jelas Sunggono.
Pemkab Kukar akan memperkuat pencegahan melalui peningkatan partisipasi masyarakat dalam kegiatan produktif. Mulai tahun depan, Kukar akan menjadi lokasi praktik mahasiswa UII untuk mendukung program perlindungan perempuan dan anak.
“Saya tawarkan ke UII, mahasiswa mereka bisa praktik di Kukar. Biaya selama di Kukar kami yang tanggung,” terang Sunggono.
DP3A Kukar telah diminta menyiapkan rencana kerja prioritas untuk mahasiswa tersebut agar kehadiran mereka memberi dampak langsung dan terukur di lapangan.
Pemkab Kukar juga akan mengoptimalkan Mall Layanan Perempuan dan Anak sebagai pusat layanan terpadu bagi korban kekerasan. Fasilitas ini menjadi prioritas anggaran tahun depan.
“Tanpa diminta pun saya anggarkan tahun depan, karena saya tahu eksistensinya penting,” tegas Sunggono.
Dalam 6 bulan terakhir, tren penanganan kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak menunjukkan peningkatan. Kondisi ini memperkuat komitmen Pemkab Kukar untuk memberikan dukungan penuh agar layanan perlindungan berjalan lebih optimal. (Cc/Adv/Diskominfo Kukar)









