Kutai Kartanegara, Sketsa.id – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) mencatat sekitar 90 persen kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah ini dipicu oleh aktivitas manusia.
Hal itu dikatakan Kepala Pelaksana (Kalak) BPBD Kukar Setianto Nugroho Aji saat ditemui di Kelurahan Melayu Kecamatan Tenggarong, Selasa (6/10/2026). Menurutnya, penanganan karhutla akan terus berulang jika masyarakat masih melakukan pembakaran lahan.
“Kita perlu membahu, perlu kampanye kepada masyarakat untuk menghindari pembakaran lahan,” ungkapnya.
Ia mengatakan bahwa aktivitas manusia yang menjadi pemicu karhutla di Kukar tidak hanya pembakaran lahan secara sengaja, tetapi juga kebiasaan lain yang dapat memicu api hingga tidak terkendali.
Di antaranya membuang puntung rokok sembarangan maupun membakar sampah. Karena itu, upaya pencegahan menurutnya tidak cukup hanya mengandalkan petugas pemadam ketika titik api sudah muncul.
“Petugas memadamkan api sementara mereka membakar, kan enggak ada selesainya,” katanya.
Setianto menilai bahwa perubahan pola pikir masyarakat menjadi bagian penting dalam penanganan karhutla. Kampanye untuk menghentikan kebiasaan membakar lahan perlu dilakukan secara bersama-sama agar kejadian serupa dapat ditekan dari waktu ke waktu.
“Tagline-nya itu harus stop bakar lahan,” tegasnya.
Di sisi lain, kondisi karhutla di Kabupaten Kukar saat ini mulai mereda. Namun, BPBD masih menemukan titik api di sejumlah wilayah. Setianto menyebut titik api masih terdapat di Desa Sabintulung, Kecamatan Muara Kaman, dan kawasan Lebak Cilong, Kecamatan Muara Wis. Karhutla secara sporadis juga masih terjadi di Kecamatan Muara Badak dan Anggana.
Meski masih ditemukan titik api, potensi karhutla yang meluas disebut sudah jauh berkurang. Penanganan sebelumnya turut didukung operasi water bombing dan modifikasi cuaca. Selain itu, hujan lebat yang terjadi di wilayah hulu Kukar sebanyak dua kali turut membantu memadamkan titik api.
“Alhamdulillah di hulu sudah dua kali hujan lebat. Jadi di hulu relatif sudah padam,” jelasnya.
Asap yang masih terlihat di sejumlah wilayah Kukar beber dia, tidak seluruhnya berasal dari karhutla lokal. Sebagian merupakan limpahan asap dari Kalimantan Tengah yang terbawa arah angin muson ke utara.
Sementara itu, BPBD Kukar memastikan keterbatasan personel dan peralatan bukan menjadi kendala utama dalam penanganan karhutla. Tantangan terbesar justru muncul ketika titik api tersebar di banyak wilayah dalam waktu bersamaan.
“Tantangan kita yang paling besar adalah titik api itu munculnya di mana-mana, sehingga butuh waktu, butuh sumber daya untuk bisa menangani secara cepat,” bebernya.
Menurut Setianto, kondisi tersebut membuat penanganan harus dilakukan secara bertahap dan sporadis. Sebelumnya, titik api bahkan muncul hampir di seluruh wilayah Kukar. Saat ini kondisi tersebut mulai membaik dan jumlah hotspot menurun drastis.
“Menurun, menurun drastis,” tandasnya. (Adv/Diskominfo Kukar/cc)










