Samarinda, Sketsa.id – Panasnya isu kebakaran hutan dan lahan (karhutla) hingga kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) memicu gelombang protes di depan Kantor Gubernur Kalimantan Timur (Kaltim). Rabu (21/10/2026) sore, Aliansi Gerakan Rakyat Menggugat turun ke jalan membawa tajuk yang menusuk: “2 Tahun Prabowo-Gibran: Kaltim Jadi Anak Tiri, Kaltim Jadi Abu di Tanah Sendiri”.
Massa aksi yang terdiri dari berbagai elemen masyarakat ini tidak datang dengan tangan kosong. Mereka menyuarakan tujuh tuntutan utama yang menyoroti langsung kondisi Kaltim saat ini.
Pertama, mendesak pemerintah pusat menetapkan status karhutla sebagai bencana nasional. Kedua, menuntut aparat menindak tegas perusahaan yang terbukti sengaja membakar lahan. Ketiga, meminta penindakan tegas bagi perusahaan tambang yang mangkir dari kewajiban reklamasi pascatambang.
Selain isu lingkungan, massa juga menyoroti persoalan energi dan sosial. Mereka mendesak pemerintah menuntaskan kelangkaan BBM yang membuat warga antre panjang, serta menghentikan pemadaman listrik bergilir yang meresahkan. Terakhir, massa menuntut evaluasi total terhadap tiga program andalan, yaitu Makan Bergizi Gratis (MBG), Koperasi Desa Merah Putih, dan program Gratispol.
Suara Lantang Emak-Emak Samarinda
Di tengah riuhnya gema orasi, suara seorang ibu rumah tangga asal Samarinda, Veronica, justru mencuri perhatian. Dengan lantang, ia merangkum kekecewaan warga terhadap kepemimpinan Gubernur Kaltim, Rudy Mas’ud.
Ia mengkritik keras kondisi hutan Kalimantan yang kian gundul, kabut asap yang memaksa sekolah diliburkan, hingga Gubernur yang disebutnya sedang berada di luar negeri di tengah krisis.
“Salah memilih pemimpin itu biasa, tapi mempertahankan gubernur yang salah itu tidak benar. Mempertahankan sesuatu yang salah, masyarakat itu salah,” seru Veronica.
Veronica juga menyinggung kematian seorang anak di Palaran yang dikaitkannya dengan dampak kabut asap. Menurutnya, rentetan musibah ini seharusnya menjadi tamparan keras bagi pemerintah untuk segera bertindak.
“Hutan di Kalimantan sudah hancur, asap di mana-mana, anak di Palaran meninggal karena kabut asap, ‘liburan’ sekolah di mana-mana, gubernurnya ke luar negeri. Apakah masih mempertahankan gubernur semacam ini?” lanjutnya dengan nada tinggi.
Tak lupa, ia juga menyerukan agar masyarakat berhenti berdiam diri melihat persoalan antrean BBM yang terjadi di berbagai daerah.
“Bicara kalian, jangan diam! Antre BBM di mana-mana, mereka diam,” tegasnya.
Aksi demonstrasi ini dimulai sejak pukul 15.00 WITA. Sebelumnya, massa berkumpul di kompleks Masjid Pemprov Kaltim. Hingga berita ini diturunkan, sejumlah kelompok massa masih terus melakukan long march menuju titik aksi utama. (*)









